Memandang Tujuh Belas Agustus

Pukul 10.00 pagi, tepat pada hari ini, enam puluh enam tahun yang lalu, di Jalan Pegangsaan Timur 56, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Beberapa hari ini, sudah banyak yang memasang Sang Saka Merah Putih di halaman depan rumahnya masing-masing demi memperingati peristiwa 66 tahun silam tersebut. Tapi tidak di rumah saya.

Sudah bertahun-tahun keluarga saya tidak pernah menjalankan tradisi tersebut. Dahulu, di daerah tempat saya tinggal, setiap tahun menjelang tanggal 17 Agustus, semua warga, mulai dari anak-anak sampai yang sudah dewasa sibuk mengurusi acara peringatan kemerdekaan.

Gelas-gelas air mineral bekas yang dicat merah putih disusun pada sebuah tali rafia dan digantung di sepanjang jalan. Bendera merah putih di mana-mana. Berbagai lomba diadakan. Sebuah panggung kecil didirikan, diisi dengan penampilan anak-anak atau artis dangdut setempat. Tak lupa, sebuah gapura berisi ucapan ‘Dirgahayu RI’ didirikan di depan gang.

Sore kemarin, ketika saya keluar rumah, saya menyadari satu hal.

Tidak ada apa-apa.

Gang rumah saya polos, tanpa ada gapura apa-apa. Di depan rumah tetangga pun hanya sedikit yang memasang bendera merah-putih, bisa dibilang hampir tidak ada. Tidak ada Pak RT yang meminta iuran ke setiap rumah untuk dana acara peringatan kemerdekaan. Tidak ada lomba-lomba. Tidak ada apa-apa.

Tujuh belas Agustus tahun ini, bagaikan sama seperti tiga ratus enam puluh empat hari lainnya dalam kalender. Biasa saja.

Saya tahu, dan saya menyadari bahwa hal yang terpenting mengenai kemerdekaan Indonesia bukanlah perayaannya, tapi sikap kita dalam mempertahankan kemerdekaan dengan teguh di hati masing-masing. Tapi tetap saja ganjil.

Sejak SD saya beranggapan bahwa tujuh belasan adalah lomba-lomba yang diadakan sebelum hari H, upacara bendera di sekolah tepat pada tanggal tujuh belas Agustus, kemudian pulang dan mengikuti perayaan yang diadakan di kampung saya. Karena memang itulah rutinitas saya setiap tahun saat tujuh belas Agustus tiba.

Kalau setiap tahun seperti ini, anak-anak kecil di daerah saya akan beranggapan bahwa tujuh belasan ya hari kemerdekaan. Mereka cuma akan memasang tweet atau status di jejaring sosial yang berisi ‘Dirgahayu RI’ lalu melakukan aktivitas seperti biasa. Tidak ada yang membedakan tujuh belas Agustus dengan hari-hari lainnya.

Ini bukan soal kemeriahan, ini soal penekanan bahwa tujuh belas Agustus merupakan hari yang penting, hari yang berbeda, hari yang menandakan puncak perjuangan bangsa Indonesia. Hari di mana kita akhirnya memproklamirkan merdeka. Sebuah kemerdekaan yang patut dirayakan, patut dikenang, dan patut dipertahankan.

Soal Proklamasi

Ketika MOPD kemarin, PDB diberikan tugas untuk menghapalkan lagu Indonesia Raya, lagu daerah, Pembukaan UUD 1945, dan tak lupa: proklamasi.

Miris rasanya ketika mereka mengaku tidak hapal proklamasi saat saya tanyakan satu per satu. Saya hanya bertanya, tidak mengetes mereka. Tanpa berjuang dahulu, mereka sudah menyerah duluan, mengaku tidak hapal.

Saya lebih menghargai mereka yang dengan soknya mengaku hapal, meskipun ketika dites masih salah-salah sedikit. Mungkin karena mereka melakukannya di bawah tekanan. Tapi tetap saja, mereka telah berjuang.

Dibandingkan dengan siswa baru yang langsung dengan lemas berkata “Saya nggak hapal Kak,” mereka setidaknya selangkah lebih merdeka.

Sekali lagi, ini bukan soal kecerdasan menghapalkan proklamasi. Ini tentang spirit perjuangan, sebuah spirit yang dahulu membakar hati para pahlawan hingga akhirnya mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan.

17 Agustus 1945, para pahlawan membukakan pintu gerbang kemerdekaan untuk rakyat Indonesia.

Dan di sinilah kita, enam puluh enam tahun berselang, masih di depan pintu gerbang kemerdekaan. Masih belum berani untuk melangkah. Belum berani untuk menyicipi arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-66.

About these ads
Memandang Tujuh Belas Agustus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s