Kami yang Telah Mati Muda

Tadi di kelas gue ada pelajaran Bahasa Indonesia. Topik kali ini: menulis puisi.

Tanpa panjang lebar, Bu Ninik, guru gue menjelaskannya. Ada satu hal menarik yang baru gue tahu pada jam pelajaran itu.

Puisi Karawang-Bekasi karya Chairil Anwar, penyair muda yang diagungkan itu, ternyata menyontek puisi The Young Dead Soldier oleh Archibald MacLeish.

Beginilah isinya:

Archibald MacLeish

The young dead soldiers do not speak.
Nevertheless, they are heard in the still houses:
who has not heard them?
They have a silence that speaks for them at night
and when the clock counts.
They say: We were young. We have died.
Remember us.
They say: We have done what we could
but until it is finished it is not done.
They say: We have given our lives but until it is finished
no one can know what our lives gave.
They say: Our deaths are not ours: they are yours,
they will mean what you make them.
They say: Whether our lives and our deaths were for
peace and a new hope or for nothing we cannot say,
it is you who must say this.
We leave you our deaths. Give them their meaning.
We were young, they say. We have died; remember us.

Mirip? Bukannya mirip lagi. Sama banget ini mah.

Bu Ninik juga menjelaskan kenapa. Puisi-puisi Chairil Anwar setelah ‘Aku’ tidak booming seperti masterpiece-nya yang satu itu. Jadi untuk mendapatkan popularitas dan uang tentunya, dia harus menyadur puisi dari pengarang luar. Terutama uang. You see, kehidupan seniman atau sastrawan pada jaman dulu tidak seenak sekarang. Susah. Jadi seorang penyair hebat seperti Beliau pun terpaksa melakukan hal itu demi mendapatkan uang untuk mengobati penyakitnya.

Siapa yang mati muda sebenarnya, para prajurit atau kreatifitas?

Kami yang Telah Mati Muda