Perang Bubat

Ada yang tahu tentang Perang Bubat?

Keren loh, coba dijadiin film, Troy mah lewat😀

Nih gue ceritain, mumpung masih ada di otak (abis ulangan sejarah soalnya).

Ada yang inget tentang Sumpah Palapa? Sumpah Palapa itu sumpah yang diucapkan Gajah Mada pada saat pengangkatan dirinya sebagai Patih Amangkubumi Majapahit ( jabatan kedua tertinggi setelah Raja) tahun 1258 Saka (1336 M).

Isinya:

Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.

Nah, pada saat itu hampir semua wilayah nusantara udah berada dalam naungan Majapahit, tapi ada daerah yang sulit dikuasai, yaitu Kerajaan Sunda Padjajaran.

Kerajaan Sunda Padjajaran ini diperintah oleh Sribaduga Maharaja, dia punya anak yang cantik banget namanya Dyah Pitaloka. Lukisannya Dyah Pitaloka ini beredar di Majapahit, dan singkat kata, Hayam Wuruk pun tertarik padanya.

Akhirnya Hayam Wuruk berniat untuk memperistri Dyah Pitaloka, maksud lain dari pernikahan ini adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda.

Baik kan niatnya? Terus kenapa bisa perang?

Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk meminta keluarga Kerajaan Sunda untuk melamarnya. Akhirnya ditentukan bahwa pernikahan itu akan berlangsung di Desa Bubat. Meski berat hati, akhirnya Kerajaan Sunda pun menyanggupinya dan datang ke tempat yang telah ditentukan.

Melihat kedatangan Kerajaan Sunda itu, Gajah Mada melihat sebuah kesempatan untuk memenuhi sumpahnya, yaitu dengan menaklukan Sunda.

Gajah Mada mempolitisir keadaan tersebut dengan mengatakan apabila Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka menikah, maka itu tandanya Kerajaan Sunda telah takluk dan mengakui superioritas Majapahit.

Terang aja Kerajaan Sunda nggak terima, wong niatnya mau nikah kok, malah jadi menyerahkan diri. Mereka akhirnya membatalkan rencana pernikahan itu.

Terjadilah peperangan yang sangat tidak seimbang antara pasukan Gajah Mada dengan Kerajaan Sunda yang hanya membawa pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu.

Perang ini berakhir dengan gugurnya Sribaduga Maharaja dan pasukannya. Dyah Pitaloka pun bunuh diri.

Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali – yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka – untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.

Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364).

Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s