Idealisme

Soe Hok Gie pernah bilang, di Indonesia itu cuma ada dua pilihan: menjadi idealis atau menjadi apatis. Gue setuju, tapi gue pikir hal ini cuma berlaku kalo gue udah 20-an ke atas dan berkecimpung di dunia politik.

Ternyata sekarang gue pun mengalaminya.

 

PCKO adalah ajang Pemilihan Calon Ketua OSIS di sekolah gue, dan gue pun mengikutinya sebagai perwakilan ekskul Jurnalistik.

Di PCKO ini, ada tes untuk mengukur kemampuan seluruh kandidat untuk menjadi pemimpin. Banyaaak banget tesnya. Yang ngetes itu kakak-kakak OSIS kelas XII, yang mana hampir ga ada yang gue kenal.

Dan setiap gue jawab atau mengutarakan pendapat, mereka rata-rata ngomong:

“Kamu yakin bisa?”

“Emang kamu pikir gampang?”

“Sekarang sih udah ga mungkin”

Dan gue pernah harus menyediakan beberapa macam jawaban untuk setiap pertanyaan.

Lebih sering lagi, gue ngebalikin pertanyaan mereka.

“Ya elah, kalo belom apa-apa udah digituin gimana bangsa Indonesia mau maju?”

“Emang salah ya ka jadi seseorang yang idealis?”

Pas gue ngomong itu, gue bener-bener teringat sama Soe Hok Gie.

Tepatnya sama kata-kata dia: “Di Indonesia hanya ada dua pilihan, menjadi idealis atau menjadi apatis.”

Dan gue bertekad mulai dari sekarang akan berusaha memegang teguh idealisme gue.

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan” Soe Hok Gie

2 thoughts on “Idealisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s