Odyssey

The Odyssey adalah sebuah kisah yang ditulis Homer, seorang pujangga Yunani, yang menceritakan tentang Odyssey (could I make that anymore obvious?). Anyway, dikisahkan kalau Odyssey atau bahasa Indonesia-nya Odysseus adalah seorang yang sangat pintar. Dialah yang bertanggung jawab atas kalahnya Troy pada perang Trojan yang sangat terkenal itu. (Pernah difilmkan, judulnya Troy, yang main si ganteng Brad Pitt. Perlu diingat bahwa Brad Pitt sangat ganteng di film itu.) Odysseus memang terkenal akan kecerdasan dan siasatnya.

Koko gue (Steven Heryanto), punya temen yang namanya Odyssey. Odyssey Gijakurti Halim. Dia biasa gue panggil Ko Odis.

Sebelum gue ngebahas tentang Ko Odis, masih inget post gue sebelum-sebelumnya tentang novel ‘Forgiven’? Di situ menceritakan tentang William Hakim, anak olimpiade fisika, penggemar Albert Einstein dan otaknya yang luar biasa jenius.

Ko Odis ini pinter banget, sesuai sama namanya yang memang diambil dari nama Odysseus dalam kisah di atas. Ko Odis ini juga kaya Will: maniak fisika. Dia sekarang kuliah di UGM, dan terancam cum laude dari jurusan Fisika Murni. Plus, dia mendapatkan beasiswa ke USA. Wow. How cool is that?

 

Tapi manusia memang ga ada yang sempurna. Bahkan sepintar-pintarnya nahkoda kapal selam, pada akhirnya akan tenggelam juga. (oke itu maksa banget)

Ko Odis juga punya kelemahan: dia sulit bergaul.

Bukan dianya sih yang sulit bergaul.

Tapi lingkungannya.

Epen cerita kalau pas SD sama SMP bahkan SMA, Ko Odis tuh jarang yang nemenin.

Bahkan si A, yang satu sekolahan terus sama dia dari SMP sampe SMA ga bisa nyambung sama dia.

Padahal mereka sama-sama suka sepakbola, sama-sama suka Arsenal.

Tapi mereka ga bisa nyambung.

Karena rata-rata orang punya anggapan yang salah tentang dia. Judge him by his cover.

Mereka mikir, ‘Ah dia kan pinter, beda sama gua.’

Pikiran seperti itulah yang menimbulkan kesenjangan. Pikiran bahwa kita berbeda.

Padahal sebenarnya perbedaan di antara kita ga sebesar itu. Apa kabarnya Bhinnekha Tunggal Ika, unity in diversity?

Prisipnya, meskipun kita beda, pasti ada hal yang bisa nyatuin kita. Persamaan itu macam-macam. Sama-sama orang Jawa, sama-sama suka nonton, sama-sama ngefans sama Beckham, sama-sama suka remedial.

Kuncinya open minded. Kalau kita terus-terusan menutup diri kita sama orang yang kita anggap berbeda, pasti sampai kapan pun ga akan pernah nyambung. Aktif mengenal orang-orang yang berbeda sama kita, cari tahu kesukaannya apa, kali aja ada yang sama. Kalau engga? Minta dia ceritakan tentang kesukaannya atau tentang dirinya, pasti kita bisa belajar hal yang sebelumnya ga pernah kita ketahui. J

 

Sebenernya gue juga bingung inti dari post ini apa. Niat awal gue adalah menceritakan kepintaran Ko Odis, tapi malah nyambung ke kelemahannya dan analisis pandangan orang dan ujung-ujungnya malah nyaranin orang open minded. Biar ga repot gue bikin per point aja deh:

  • Koko gue punya temen namanya Odyssey, yang pinternya nyerempet sama Odyssey-nya Homer.
  • Orang ini juga punya kelemahan: ga bisa gaul.
  • Lingkungannya menganggap dia berbeda karena opini publik yang salah, bahwa mereka itu beda.
  • Perbedaan itu wajar, tapi jangan sampai tercipta kesenjangan gara-gara kita berbeda.
  • Inget Bhinnekha Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu.
  • Setiap orang pasti punya kesamaan, supaya kita bisa tahu, kita harus jadi orang yang open minded J.

 

PS: maaf berantakan, maklum blogger amatir

PSS: dilihat dari post antah berantah ini, sekarang gue tahu kenapa bahasa Indonesia gue dapet jelek

PSSS: jangan kapok baca blog ini ya! J

PSSSS: okay, I should stop making post scripts. See you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s