Tentang Organisasi

Setiap pengurus pasti beranggapan kalau OSIS angkatannya lah yang terbaik. Itu karena masing-masing pengurus sudah melakukan yang terbaik untuk OSIS masing-masing.

Koko gue pernah bilang gitu. Dan emang bener kenyataannya.

Bukan ego mereka yang berbicara, tapi kenyataan. Mereka memang sudah bekerja keras dan melakukan apa yang mereka bisa demi OSIS angkatannya. Demi teman-teman mereka. Demi sekolah mereka.

Ga percaya? Hello… emang siapa yang ngadain Pensi di sekolah lu? Yang rajin ngadain acara ini itu? Yang ngadain acara di Hari Guru? Yang ngerayain ultah Kepsek?

Sadar atau engga, pengurus OSIS punya andil besar dalam acara itu. Ekskul juga bisa sih ngadain acara. Tapi sadar ga sih, pengurus OSIS hampir selalu ada ketika ekskul ngadain acara. Di hari libur sekali pun. Meskipun mereka ga jadi panitia inti, meskipun mereka cuma dapet konsumsi sedikit, meskipun mereka cuma dibabuin, meskipun mereka diomel-omelin sama panitia yang sebenernya, tapi mereka ada. Mereka kerja.

Terus kalau gitu, pengurus OSIS adalah murid yang baik yang baik?

Ehm, maaf-maaf saja ya, kami BUKAN murid yang baik.

Well, mungkin sebagai pengurus, kami baik, yeah. Tapi hal itu tidak lantas menjadikan kami sebagai murid yang patut diteladani.

Beneran, gue aja pernah menyalahgunakan dispensasi. Banyak juga yang menyalahgunakan Ruang OSIS sebagai tempat bolos bersama.

Hello, bagian mananya yang patut diteladani?

Di sekolah gue ada dua pilihan. Satu, jadi murid baik-baik yang ga ikut organisasi tapi nilai gemilang. Atau dua, jadi pengurus OSIS, sering dispen, ketinggalan pelajaran, diomelin wakasek, diusirin pulang, you name it.

OSIS or not OSIS, that is the question

Pilih satu dan elu bakal punya nilai gemilang dan absen sempurna

 

Pilih satu dan elu bakal nggak punya apa-apa untuk diceritain ke anak cucu lu

Pilih dua, dan elu bakal harus bersiap-siap menderita.

Tapi, pilih dua, dan elu bakal punya pengalaman yang lebih berarti dibandingkan dengan sebelumnya.

Itulah stereotype yang terbentuk di sekolah gue.

Pengurus OSIS (apalagi yang kelas XI) digambarkan sebagai murid-murid yang sering dispensasi, pulang sore terus, banyak nuntut, dan yang terpenting: nilai jeblok.

Gue, Devina Heriyanto, absen 10 kelas XI IPA 1, Koordinator Departemen Kaderisasi dan Organisasi, ingin mematahkan stereotype itu.

Gue bakal membuktikan sama orang-orang di luar sana (di sana? Bukan! Di sanaaaaaa!) kalau elu bisa kok jadi pengurus OSIS sekaligus jadi murid berprestasi di akademik.

Kenapa gue bilang di akademik? Karena jadi pengurus OSIS, udah merupakan prestasi sendiri di bidang organisasi. Yang berkeinginan jadi pengurus OSIS hanyalah orang yang berani ambil resiko bahwa ke depannya mereka akan sibuk, sibuk dan sibuk!

Orang yang aktif organisasi biasanya otomatis masuk IPDN. Ikatan Pelajar Dispen.

Dispensasi itu oke-oke aja, dan ga ngaruh ke absen. Tapi itu ngaruh ke pelajaran. Makanya, kalo lu sering dispen, lu juga harus rajin. Rajin pinjem catetan temen (either buat fotokopi atau disalin), rajin tanya ada tugas apa selama lu ga ada, rajin ikut ulangan susulan, dan harus rajin mengejar ketinggalan!

Ikut organisasi atau engga, itu pilihan lu. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Dan nggak semua orang suka terlibat aktif di organisasi. Ini Negara bebas, di mana setiap orang diberikan pilihan.

Tapi, jangan jadikan keaktifan di organisasi sebagai alasan untuk berhenti jadi murid yang baik. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s