Kita dan Musim Hujan

Post berikut ini adalah rangkuman dari dhammadesana malem minggu kemarin (15/01/2011) oleh Bhante Piyadhiro saat puja bhakti pemuda Vihara Sariputra.

Sekarang lagi musim hujan. Jumlah segini, 40 orangan yang dateng ke kebaktian adalah jumlah yang lumayan. Mungkin banyak yang ga dateng karena mendung dari tadi dan takut kehujanan, tapi untungnya di Vihara Sariputra ini nggak hujan. Memang sering begitu kita perhatikan. Mendung tebal tapi ga hujan, eh mendung tipis malah hujan. Pas mendung kita udah ga jadi pergi karena kita pikir bakalan hujan, eh ternyata engga. Begitulah feeling, kadang benar kadang salah, nggak pasti.

Kalau mendung tapi tidak hujan, gimana rasanya? Kepanasan. Mungkin kalian sih engga, karena pakai bajunya semaunya. Kalau Bhante kepanasan karena harus pake jubah yang kaya selimut. Bagi orang yang ga ngerti, kadang Bhante ditanya, “Lagi sakit apa toh?” Saya jawab, “Sakit mental.” Manusia itu memang sakit mental. Mental kita masih dipenuhi lobha, dosa dan moha. Sakit mental ini nggak seperti sakit macam pilek atau batuk yang bisa disembuhkan pakai obat. Sakit mental ini sulit disembuhkan.

Kalau sekarang ini musim hujan, tapi di daerah tertentu kering kerontang. Akibatnya apa? Gagal panen. Karena udah waktunya hujan tapi tetap panas. Karena musim hujan harusnya bibit itu sudah mulai disemai. Tapi kalau hujan terus menerus? Duka juga, kenapa? Benihnya nggak tumbuh-tumbuh karena kena hujan terus.

Kita sebagai manusia juga nggak bisa menangkal atau mengundang hujan. Hujan itu datangnya dari alam, dan manusia itu bagian dari alam. Hujan itu kondisi yang nggak bisa dilawan. Kalau hujan, ada yang suka, ada juga yang tidak.

Hidup juga sama, ada suka dan duka. Hujan sebagai pertanda alam bisa menunjukkan karakter seseorang.

Mendung tak berarti hujan

Ini tipe yang pertama. Kadang manusia suka begitu, pada waktu tertentu kita suka janji-janji. Misalnya, “Iya nanti kalau ada acara saya akan bantu.” Tapi kenyataannya enggak. Hanya omong kosong. Seharusnya, ketika kita sudah berjanji, apapun yang terjadi harus berusaha untuk ditepati kalau nggak mau dicap ‘Manusia mendung tak berarti hujan’

Mendung dan hujan lokal

Kadang suka seperti ini. Satu daerah hujan, tapi bagian lainnya kering kerontang. Ini sama dengan manusia yang kalau berbuat baik suka pilih-pilih orang atau kondisi. Misalnya mau nolong temennya doang, yang lain dicuekin aja. Atau mau hanya bergaul dengan satu kelompok tertentu. Kita ga boleh kaya gitu. Karena kalau enggak ada orang lain, kita nggak bisa apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Mendung dan hujan merata

Nah ini tipe yang paling bagus, manusia yang berbuat kebajikan di mana-mana tanpa pandang bulu. Dengan cara apa? Sang Buddha pernah menjelaskan bahwa perbuatan baik yang paling gampang adalah berbagi (dana). Berbagi dalam bentuk apa saja, materi, tenaga, ucapan atau pun pikiran. Bisa juga dengan melatih moralitas (sila). Sebagai umat awam melaksanakan pancasila, atau kalau kurang bisa melakukan atthasila di hari uposatha. Yang terakhir adalah meditasi (samadhi) yang sebaiknya dilakukan setiap saat.

Apa manfaatnya melakukan kebajikan? Bahagia dan bahkan mencapai nibbana.

Dengan menjalankan dana, sila dan samadhi, hidup kita menjadi lebih bermakna, kita bisa lebih maju dan berkembang. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Sekian yang bisa disampaikan kembali, semoga bisa berguna bagi kita semua. Sabbe satta bhavantu sukhitatta. Sadhu sadhu sadhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s