Sepeda Kehidupan

Sepeda mungkin adalah alat transportasi yang bisa dibilang klasik. Kendaraan apa sih yang pertama kali kalian bisa kuasai? Sepeda kan? Ketika kita kecil, pasti ditanamkan satu hal: harus bisa sepeda. Kita jatuh bangun, mengumpulkan niat dan semangat untuk bisa menaklukan si roda dua ini. Pada akhirnya, dengan susah payah, kita pun bisa mengendarai sepeda. Siapa sih yang nggak bisa?

Gue.

Yup, gue nggak bisa naik sepeda. Bukan cuma nggak bisa mengendarai aja, gue bahkan nggak bisa duduk diam di atas sepeda meskipun dibonceng. Bawaannya takut, panik dan pengen jatuh terus.

Ketidakbisaan gue dalam hal bersepeda membawa gue pada satu hal. Fakta ini membuktikan bahwa manusia tidak mungkin bisa melakukan semuanya. Gue contohnya, mungkin aja gue jago di pelajaran, mungkin gue aktif di organisasi, tapi gue nggak bisa naik sepeda.

Ketiga gue gagal menguasai sepeda, gue nggak langsung putus asa. It’s not like masa depan gue bakal suram atau gimana cuma gara-gara gue nggak bisa naik sepeda. Nggak bakal kiamat. Dunia nggak berakhir cuma karena gue nggak bisa naik sepeda.

Sepeda memang alat transportasi yang paling sederhana dan ramah lingkungan. Tapi fakta bahwa gue nggak bisa mengendarai sepeda bukan berarti gue nggak bisa ke mana-mana. Masih ada angkot, bus, mobil pribadi, atau bahkan mepet-mepetnya jalan kaki. Begitu pula dalam hal lain. Kalo elu seumpamanya gagal mencapai cita-cita lu dengan suatu hal, jangan menyerah! Masih banyak cara untuk mencapai cita-cita lu itu.

Edison pernah menuntut sebuah koran untuk mengganti headline tentang penemuannya yang semula “Setelah 9.955 kali gagal menemukan bola lampu pijar, Edison akhirnya berhasil menemukan lampu yang menyala” menjadi “Setelah 9.955 kali berhasil menemukan lampu yang gagal menyala, Edison akhirnya berhasil menemukan lampu yang menyala.”

Tapi kenyataannya, nggak semua dari kita punya tekad dan semangat seperti Edison. Jangankan 9.955 kali, gagal 1 kali pun kita langsung menyerah. Itu wajar. Kita manusia, dan kita punya keterbatasan. Entah itu keterbatasan semangat, ekonomi ataupun dalam hal-hal lainnya.

Dan ketika gue sudah memutuskan untuk berhenti mencoba menguasai sepeda, bukan berarti gue juga menutup diri gue untuk menguasai kendaraan lain kan? Gue memang sudah patah hati sama kendaraan roda dua, tapi bukan berarti gue patah hati juga sama kendaraan roda empat. Gue belajar mengendarai mobil. Dan fakta bahwa gue nggak bisa mengendarai sepeda nggak ngaruh dalam kemampuan gue mengendarai mobil. Gue bisa kok. Begitu juga ketika kita nggak menguasai satu bidang. Katakanlah elu nggak bisa Bahasa Indonesia, tapi bukan berarti elu nggak bisa bahasa asing lain kan?

Semua orang pasti pernah merasakan kegagalan. Merasa dirinya tidak mampu. Bagus itu. Dengan begitu kita tahu di mana kekurangan kita. Ketika tahu kita tidak bisa melakukan A, kita akan mencari tahu apa yang BISA kita lakukan. Entah itu B, C, D atau Z. Jangan langsung merasa kita itu orang paling gagal sedunia.

Meskipun gue gagal mengendarai sepeda, tapi gue berhasil mengambil pelajaran dari situ. Itulah yang sebenarnya penting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s