Doktrinasi

Post berikut ini adalah lanjutan dari post sebelumnya, merupakan bagian kedua dari diskusi Dhamma yang disampaikan oleh Bpk. Kirana pada puja bhakti Pemuda Vihara Sariputra, Sabtu 19 Maret 2011.

Dewasa ini, banyak ditemukan kasus umat Buddhis yang berpindah keyakinan ke agama lain. Sungguh menyayangkan memang, di saat mereka sudah memiliki Dhamma yang indah pada awal, tengah dan akhirnya, mereka malah memilih untuk melepaskannya. Oleh karena itu, terkadang doktrinasi dibutuhkan. Pengetahuan agama Buddha haruslah memadai, agar keyakinan kita bertambah sehingga tak tergoyahkan. Dengan mengetahui teori, apalagi kalau sudah ditambah praktek, Dhamma akan ‘lengket’ di pikiran kita.

Pada kesempatan kali ini, Bapak Kirana memberikan 10 soal agama Buddha. Berikut adalah soal-soal yang Beliau berikan, juga jawabannya yang dicetak miring.

  1. Hidup ini hendaknya memiliki tujuan agar lebih bermakna.
  2. Kebahagiaan tertinggi dalam Buddha Dhamma adalah mencapai Nibbana. Berbeda dengan tujuan agama lain yang meninggikan surga, alam surga dalam agama Buddha bukanlah suatu tempat yang kekal. Karena masih ada tujuan yang lebih tinggi lagi, yaitu Nibbana yang bersifat kekal.
  3. Sebab penderitaan dalam agama Buddha adalah karena kita berkondisi dan memiliki tiga akar kejahatan.Berkondisi artinya, kita semua merupakan perpaduan dari batin (nama) dan bentuk jasmani (rupa). Hal ini berarti bahwa kita berproses, dan mengalami penderitaan akibat perubahan-perubahan. 3 akar kejahatan yaitu lobha, dosa dan moha.
  4. Untuk terbebas dari dukkha, kita harus mengikis 3 akar kejahatan. Karena kita tidak mungkin mengikis kondisi maupun tubuh jasmani. Mereka yang berpikir bahwa kita seharusnya mengikis kondisi akan terlahir di alam asannasatha sebagai makhluk yang batinnya tidak muncul. Sedangkan mereka yang berpikir bahwa kita seharusnya mengikis tubuh jasmani akan terlahir di alam arupa. Keduanya merupakan alam brahma, yang memiliki masa hidup yang sangat panjang, akan tetapi keduanya merupakan pandangan salah.
  5. Jalan satu-satunya untuk terbebas dari penderitaan adalah Hasta Ariya Magga. Artinya Jalan Tengah Berunsur Delapan, secara garis besar dibagi menjadi 3 yaitu Panna, Sila dan Samadhi.
  6. Konsep ketuhanan dalam Buddha Dhamma mengacu kepada Nibbana. Dahulu ketika pandita agama Buddha yang berada di Indonesia memperjuangkan agama Buddha sebagai agama yang diakui pemerintah, mereka menghadapi syarat diakuinya sebuah agama yaitu harus memiliki 1) Tuhan 2) kitab suci 3) nabi dan 4) pemeluk. Di dalam Buddha Dhamma tidak pernah dikenal suatu sosok mahakuasa yang disebut Tuhan, tapi pandita yang ada saat itu menyimpulkan bahwa kita memiliki tuhan yang disebut sebagai Sanghyang Adhi Buddha. Akan tetapi julukan tersebut tidak pernah ada dalam Tipitaka. Oleh karena itu akhirnya konsep ketuhanan digali lebih dalam hingga dalam Udana VIII:3 ditemukan kata ‘Nibbana’ yang merupakan tujuan tertinggi umat Buddha. Nibbana memiliki empat sifat yang memungkinkan manusia terbebas dari penderitaan.
  7. Sifat tuhan dalam agama Buddha adalah Maha Esa, Maha Suci, impersonal dan tidak memiliki sifat-sifat manusia. Maha Esa berarti tunggal, hanya satu. Maha Suci berarti sudah terbebas dari 3 akar kejahatan. Impersonal berarti tidak mempunyai bentuk (person).Tidak memiliki sifat-sifat manusia berarti tidak ada maha penyayang, maha baik dan sebagainya karena nantinya akan saling berkontradiksi.
  8. Yang ‘tidak berkondisi’ diketahui dari kitab suci, logika dan pengalaman langsung. Setelah mengetahui dari kitab suci, orang bijaksana hendaknya menganalisisnya dengan logika dan dibuktikan oleh para arahat yang telah mengalaminya langsung.
  9. Hakekat alam semesta adalah batin dan materi. Bisa dilihat dari manusia, yang merupakan bagian dari semesta, terdiri dari nama dan rupa. Perlu diingat bahwa manusia adalah bagian dari semesta, bukan master apalagi monster.
  10. Untuk bekerjanya alam semesta, diperlukan Hukum Tertib Kosmis. Dalam agama Buddha dikenal sebagai Panca Niyama yang terdiri dari Uttu Niyama, Bijja Niyama, Citta Niyama, Kamma Niyama dan Dhamma Niyama. Hukum ini berjalan sendiri tanpa ada yang mengaturnya. Dalam Dhamma Niyama Sutta bahkan disebutkan bahwa ada atau tidaknya Sang Tatthagatha, Hukum Kebenaran akan tetap ada karena Buddha hanya sebagai penemu, bukan pencipta.

Tujuan dari doktrinasi ini adalah supaya kita bisa mempertahankan diri dari ajaran agama lain. Karena pertahanan adalah penyerangan yang terbaik.🙂

Semoga post ini berguna bagi kita semua. Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, semoga semua makhluk hidup berbahagia. Sadhu, sadhu, sadhu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s