Tsunami Jepang dan Buddhisme

Post berikut ini adalah rangkuman dari dhammadesana malem minggu kemarin (19/03/2011) oleh Bpk. Kirana saat puja bhakti pemuda Vihara Sariputra. Khusus untuk diskusi Dhamma minggu ini akan dibagi menjadi dua bagian karena cukup panjang.

Beberapa hari yang lalu, di harian Kompas, tepatnya edisi 18 Maret 2011, terdapat suatu anak judul wacana yang cukup menarik perhatian.

Krisis Nuklir Kian Memburuk: Nilai Buddha & Shinto Tenangkan Jepang

Berikut ini adalah kutipan dari wacana tersebut:

…. Doktor Don Sisk, Presiden Emeritus Baptist International Missions

Incorporated, juga dari AS, bercerita soal pengalaman serupa. “Warga jepang

tidak panik sebagaimana jika itu terjadi di AS. Mereka terluka di dalam, tetapi

tidak memperlihatkan keluar.”

John Nelson, seorang pakar kawasan Asia dari University of San Fransisco,

menjelaskan fenomena tersebut. Ia mengatakan, org Jepang tidak akan meratapi yg

sdh terjadi. “Mereka malah bertanya, apakah yg dilakukan selanjutnya,” tuturnya.

Nelson mengatakan, masyarakat Jepang terlihat sekuler. Namun, dlm kasus

tertentu, mereka akn kembali memegang nilai2 tradisional. “Ada ucapan terkenal

di Jepang bhw org2 akan kembali ke dewa2 jika sedang dlm kesulitan. Dan sy kira

itu yg kita lihat sekarang ini,” lanjut Nelson. Ia menambahkan, acara2 ritual

Buddha memengaruhi kehidupan Jepang.

Duncan Williams, seorang bhiksu, jg memberi penjelasan. Pengaruh Buddha

menjadi faktor utama kesabaran, daya tahan, serta pengorbanan dalam sebuah

tragedi.

Hal itu juga didukung oleh Ian Reader, profesor ahli Jepang dari University of

Manchester (Inggris), serta Brian Bocking, pakar budaya Asia dari University

Callege Cork (Irlandia)…

Sungguh menggembirakan bahwa ajaran agama Buddha masih tertanam kuat di Jepang dan menjadi salah satu faktor penting dalam kebangkitan dan kesiapan masyarakat Jepang dalam menghadapi bencana-bencana yang menghantam mereka.

Seperti yang terdapat di dalam Abhinhapaccavekkhana Pattha:

Aku akan menderita usia tua,
Aku takkan mampu menghindari usia tua…
Aku akan menderita sakit,
Aku takkan mampu menghindari sakit…
Aku akan menderita kematian,
Aku takkan mampu menghindari kematian…
Segala milikku yang kucitai akan berubah, terpisah dariku!

Aku adalah pemilik karmaku sendiri…
Pewaris karmaku sendiri…
Lahir dari karmaku sendiri…
Berhubungan dengan karmaku sendiri…
Terlindungi oleh karmaku sendiri!

Apapun karma yang kuperbuat,
Baik ataupun buruk, itulah yang kuwarisi!
Hendaklah ini kerap kali kita renungkan…

Di dalam kehidupan, di sana ada penuaan, kesakitan, kematian dan perpisahan dari hal-hal yang kita sukai. Sungguh hebat bagaimana masyarakat Jepang bisa menerima hal tersebut dengan jernih.

Pada kesempatan kemarin pula, Bpk. Kirana menegaskan: “Pada saat kita menemukan masalah, kita tidak sepatutnya lari ke dukun dan sebagainya, apalagi kalau sampai menjadikan Bhikkhu sebagai dukun.”🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s