Tentang Perfilman Kita…

Entah kenapa, hari ini gue punya satu niat mulia dalam mencapai tujuan nasional: nonton Janji Joni.

Nah, berhubung gue adalah pembajak sejati, maka gue memulai niat gue dengan googling mencari link yang bersedia diunduh. You see, gue adalah orang yang gampang sekali ter-distract dari apa yang semula gue kerjakan. Saat membuka wikipedia saja, yang tadinya membaca tentang A bisa sampai ke 99. Berakhirlah gue di link ini: Perfilman Indonesia.

Bagi yang nggak mau repot buka link ini, langsung aja gue kutip aja satu bagiannya yang menarik perhatian gue.

Film Indonesia Terbaik

Arisan!, salah satu film pemenang Film Terbaik dari ajang Festival Film Indonesia yang mempunyai tema yang cukup kontroversial

Sudah sejak lama ada beberapa pihak baik itu institusi, media ataupun perorangan yang berusaha menggolongkan film-film Indonesia sepanjang masa yang layak menjadi film yang terbaik berdasarkan kategori-kategori tertentu. Salah satunya adalah tabloid Bintang Indonesia yang pada akhir tahun 2007 berusaha memilah film-film apa saja yang dapat dikategorikan sebagai film Indonesia terbaik. Dari 160 film yang masuk dipilihlah 25 film yang dapat dikategorikan sebagai film-film Indonesia terbaik sepanjang masa. Film-film tersebut dipilih oleh 20 pengamat dan wartawan film yakni: Yan Widjaya (wartawan film senior), Ilham Bintang (wartawan film senior), Ipik Tanojo (Bali Post), Eric Sasono (pengamat film), Arya Gunawan (pengamat film), Noorca M. Massardi (wartawan film senior), Yudhistira Massardi (Gatra), Leila S. Chudori (Tempo), Frans Sartono (Kompas), Yusuf Assidiq (Republika), Aa Sudirman (Suara Pembaruan), Taufiqurrahman (The Jakarta Post), Eri Anugerah (Media Indonesia), Sandra Kartika (Wakil Pemimpin Redaksi Tabloid Teen), Telni Rusmitantri (Cek n Ricek), Ekky Imanjaya (situs Layarperak.com), Wenang Prakasa (Movie Monthly), Orlando Jafet (Cinemags), Poernomo Gontha Ridho (Koran Tempo), dan Ekal Prasetya (Seputar Indonesia)[1]. Ke-25 Film tersebut adalah:

  1. Tjoet Nja’ Dhien (1986)
  2. Naga Bonar (1986)
  3. Ada Apa dengan Cinta? (2001)
  4. Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985)
  5. Badai Pasti Berlalu (1977)
  6. Arisan! (2003)
  7. November 1828 (1978)
  8. Gie (2005)
  9. Taksi (1990)
  10. Ibunda (1986)
  11. Tiga Dara (1956)
  12. Si Doel Anak Betawi (1973)
  13. (Cintaku di) Kampus Biru (1976)
  14. Doea Tanda Mata (1984)
  15. Si Doel Anak Modern (1976)
  16. Petualangan Sherina (1999)
  17. Daun di Atas Bantal (1997)
  18. Pacar Ketinggalan Kereta (1988)
  19. Cinta Pertama (1973)
  20. Si Mamad (1973)
  21. Pengantin Remaja (1971)
  22. Cintaku di Rumah Susun (1987)
  23. Gita Cinta dari SMA (1979)
  24. Eliana, Eliana (2002)
  25. Inem Pelayan Sexy (1977)

Apa film terbaru yang masuk ke daftar ini? Gie. Itu pun dibuatnya tahun 2005. Jika ditelusuri lebih jauh lagi, film yang dibuat di atas tahun 2000 yang masuk ke dalam daftar ini hanya 4: AADC, Arisan!, Gie, dan Eliana, Eliana. Padahal, perfilman Indonesia, sejak kebangkitannya tahun 2004 memproduksi banyak sekali film.

Banyak film, nggak semuanya bermutu. Itulah letak kesalahan perfilman kita.

Kalau melihat film Indonesia yang beredar di bioskop sekarang, kesan gue: males dan jenuh. Genre-nya hampir sama semua, pemainnya itu-itu juga. Ceritanya gitu-gitu aja. Efeknya nggak gimana-gimana. Dan apa yang paling bikin males? Fakta bahwa hampir di semua film Indonesia yang beredar sekarang, mengandung unsur pornografi. Nggak banyak sih, tapi diselipin di sana-sini dan bikin mualas!

Dari segi cerita, sebenarnya banyak novel-novel tulisan pengarang lokal yang sangat potensial untuk diangkat ke layar lebar. Nggak dosa kok. Lihat aja kesuksesan Badai Pasti Berlalu yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Marga T. Perfilman asing macam Hollywood juga nggak jarang mengangkat sebuah novel ke layar lebar. Ambil contoh: The Chronicles of Narnia, yang dari tujuh bukunya sudah ada tiga yang diangkat ke layar lebar.

Apa lagi yang disayangkan? Kurangnya film untuk anak.

Tanya deh adik atau keponakan kalian tentang film yang paling mereka suka. Jawabannya nggak jauh-jauh dari film animasi produksi Hollywood atau tokusenka keluaran Jepang. Setelah itu lihat jajaran film nasional, kira-kira ada nggak yang cocok untuk ditonton bareng mereka? Kalau pun ada, ya sedikit sekali jumlahnya. Dulu pas gue SD, ada Petualangan Sherina untuk dibicarakan sama temen sebangku. Lah sekarang? Anak SD tontonannya shitnetron.

Tahun 2004, pecinta film mengalami euforia atas kebangkitan perfilman Indonesia.

Perfilman Indonesia, riwayatmu kini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s