If I were my parents…

Entah gue sudah pernah cerita atau belum, tapi sekarang gue jadi volunteer di Chapter Karawang. Minggu, 1 Mei 2011 lalu, gue dan rekan-rekan volunteer lain menjadi pengawas dalam seleksi tahap 1 AFS/YES/Jenesys. Bagi yang pernah ikutan, pasti tahu kalau seleksinya itu ada tiga ujian. Satu, pengetahuan umum yang meliputi hot news sampai infotaimen -yang mana kalau gue boleh nambahin, susahnya parah banget. Dua, bahasa Inggris (written). Dan yang terakhir, esai Bahasa Indonesia.

Salah satu topik di seleksi kemarin yang menarik perhatian gue adalah:

“Jika kamu adalah orangtuamu, apa yang akan kamu beritahukan pada dirimu yang sekarang?”

Gue diem aja bacanya. Setelah itu nggak gue pikirin lagi. Entah kenapa, pas gue sampai di rumah, topik ini muncul lagi ke permukaan. Menghantui gue. Jadilah gue berpikir: apa yang sekiranya gue bakal sampaikan ke gue yang sekarang?

Banyak.

If I were my parents, I would ask me to study harder…

Dengan peringkat satu yang gue pegang sekarang, banyak orang yang salah mengira bahwa gue rajin belajar. At least lebih rajin dari kebanyakan siswa. Nope. Salah besar. Gue termasuk siswa yang malas. Yang buku pelajaran aja jarang bawa. Yang tiap hari mengharapkan guru rapat supaya nggak belajar. Yang kalau lagi pelajaran suka SMS-an. Yang belajar kalau besoknya ujian doang.

Kadang, gue sadar kalau gue terlalu santai dan terlalu malas, tepatnya. Gue lebih milih internetan atau nge-blog daripada kerjain laporan praktikum yang mana dikumpulin besok. Parah.

If I were my parents, I would ask me to exercise more…

You see, keluarga gue itu keluarga atlet. Mama, Papa, dan Epen. Semuanya jago, hobi, dan sering berolahraga. Mama olahraganya voli dan badminton. Seminggu enam kali lah. Papa tiap malam main badminton sama teman-temannya. Epen sih, olahraga apa aja. Voli, badminton, futsal, jogging, sepedaan, banyak deh.

Lah gue? Nggak bisa olahraga apa-apa. Kerjaannya tiap hari cuma menimbun lemak di depan PC.

If I were my parents, I would ask me to eat more…

Gue itu orangnya moody banget, termasuk dalam soal makan. Terkadang, kalau gue lagi pengen makan, gue tuh kerjaannya makaaan mulu. Seringnya: kaya orang puasa.

Gue nggak pernah sarapan. Jaraaaang banget. Biasanya makan jam 10an (istirahat pertama), atau kalau di rumah sekalian makan siang: jam 12an. Makan lagi pas jam makan malam. Itu juga kalau udah diteriakin Mama, Papa, atau Harly. Rata-rata sehari gue makan sehari dua kali doang. Orang normal makan sehari tiga kali.

Kenapa bisa gitu? Males. Gue tuh meskipun udah lapar (kaya sekarang), tapi kalau udah asik, main PC misalnya (kaya sekarang), nggak bakal memperdulikan perut meski udah keroncongan (kaya sekarang).

If I were my parents, I would ask me to tidy my room more…

Sejak kelas 1 SMP, gue punya kamar sendiri. Sekali lagi gue tekankan kalau gue adalah orang yang moody dan males. Yang mana gue sadari bukan merupakan kombinasi yang bagus. Sikap gue ini diterapkan dalam segala aspek kehidupan, termasuk membersihkan kamar.

Kalau hari-hari sekolah, biasanya gue malas membereskan barang-barang. Semuanya main ditaruh saja di kasur. Alhasil, kasur atas (karena kasur gue dua tingkat) lebih sering ditiduri barang-barang gue macam tas atau jaket. Dan tentu saja hal ini mengundang nyamuk untuk singgah. Palingan gue membereskan barang kalau udah benar-benar nggak bisa ditolerir, atau lagi rajin. Suatu hal yang jarang terjadi.

Yah, mungkin itu aja yang bakal gue katakan ke gue (contoh kalimat yang tidak bagus). What about you?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s