Waisak: memperingati apa sih?

Post berikut ini adalah rangkuman dari diskusi Dhamma malam minggu kemarin (30/04/2011) oleh Bpk. Yayang Tanu Riyadi saat puja bhakti pemuda Vihara Sariputra.

Sebentar lagi, tepatnya tanggal 17 Mei, umat Buddha akan memperingati Waisak, atau yang biasa dikenal dengan Trisuci Waisak, karena memang memperingati tiga peristiwa penting. Nah, apa saja peristiwa yang diperingati itu? Tentunya kita semua tahu apa saja: 1) Kelahiran Pangeran Sidharta 2) Pertapa Gautama menjadi Buddha 3) Sang Buddha parinibbana.

Tapi, selain tiga hal di atas, ada pula tiga peristiwa yang tak kalah penting untuk kita renungkan saat Waisak nanti:

1. Seorang pangeran kecil berusia tujuh tahun, duduk bermeditasi di bawah pohon jambu hingga mencapai jhana. Saat itu, bayangan pohon terus menaungi sang pangeran kecil meskipun matahari tetap bergerak seperti biasa.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah bukan bayangan pohon yang terus menaungi pangeran kecil, tapi meditasi-nya.

Kebanyakan dari kita, yang berusia dua kali lipat, bahkan lebih dari pangeran kecil itu, masih belum biasa meditasi. Padahal, pesan terakhir Buddha sebelum parinibbana adalah, “Tekunlah dalam kesadaran.”

Bagaimana caranya? Ya meditasi. Itulah yang harus kita laksanakan sebagai umat Buddha.

2. Pertapa Gautama bertapa selama enam tahun, banyak berganti metode dengan penuh perjuangan dan semangat. Meskipun gagal, tetap coba lagi tanpa lelah.

Kita? Nggak sampai sepuluh menit bermeditasi sudah banyak keluhan. Mulai dari lapar, haus, bosan, kesemutan, banyak!

Pertama Gautama selama enam tahun tetap semangat hingga menemukan obat agar manusia tidak tua, tidak sakit dan tidak mati. Bagaimana caranya? Ya jangan dilahirkan. Masalahnya adalah bagaimana menghentikan kelahiran kembali itu.

Satu-satunya jalan hanya meditasi.

3. Setelah mencapai penerangan sempurna, Buddha mengajar Dhamma selama 45 tahun dengan penuh semangat, tanpa peperangan, bahkan hingga hanya tidur satu jam.

Dari jam 11 malam hingga 4 pagi, Buddha mengajar para dewa. Malamnya, Buddha mengajar para Bhikkhu. Sorenya, Buddha mengajar umat. Pagi dan siang, Sang Buddha menerawang dunia, melihat siapa yang perlu diberi pertolongan atau siapa yang siap menerima Dhamma.

Kita? Sudah tidur 12 jam, belajar sedikit, tapi ingin nilai bagus! Sungguh tidak seimbang dengan apa yang diajarkan oleh guru agung kita.

Melihat tiga peristiwa di atas, kita harus mulai berlatih meditasi sejak sekarang. Saat bermeditasi, kita hanya tahu saja. Sadar itu adalah memadamkan, bukan ingin dipadamkan. Bukan memadamkan keinginan dengan keinginan lain.

Tekunlah dalam kesadaran.

Sekian yang bisa disampaikan kembali, semoga bisa berguna bagi kita semua. Sabbe satta bhavantu sukhitatta. Sadhu sadhu sadhu

4 thoughts on “Waisak: memperingati apa sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s