Waktu

Today is Sunday. And here I am, writing a new blogpost.

Sebagian dari kalian mungkin berpikir, “Ini orang hari Minggu nggak ada kerjaan apa ya? Malah sempet-sempetnya nulis blogpost.”

Well, you’re wrong people. I’ve got a lot of things to do. Too much things to do, actually. Sayangnya, hal ini nggak berbanding lurus dengan waktu yang gue punya. Bumi tetap berotasi sebagaimana mestinya, dan sehari tetap 24 jam lamanya. Yang mana nggak memungkinkan gue untuk melakukan semua hal yang seharusnya dikerjakan.

Contohnya hari ini.

Di Minggu pagi yang cerah ini, biasanya gue udah siap-siap untuk pergi ke Vihara Sariputra dan mengasuh di Sekolah Minggu. Tapi tadi, seorang teman volunteer dari Chapter Karawang, Tanto, mengirimkan sebuah SMS yang isinya mengajak semua volunteer buat koreksi jawaban seleksi tahap pertama kemarin. Kemarinnya, Deden ngedata anak OSIS yang mau ikut bantu-bantu ekskul Pramuka mengadakan AKSIMU. Harap dicatat bahwa secara organisasi, Pramuka adanya di Departemen Kaderisasi dan Organisasi yang gue ketuai. Sekarang gue udah siap, tapi bukan untuk tiga kegiatan di atas. Buat try out STAN.

Plus, gue belom kerjain tiga laporan praktikum fisika. TIGA dan FISIKA adalah bukan kombinasi yang bagus, kalau elu mau tahu.

Gue juga belom beli sepatu baru. Bukannya apa, sepatu lama gue yang udah dua tahun ini gue pake, udah membuka solnya dan sekarang berada dalam keadaan yang sangat nggak layak dipakai. Kalau nggak rusah juga nggak bakal gue ganti.

Gue juga belum belajar sama sekali untuk Olimpiade Kimia Kabupaten Selasa besok. Oh my…

These things lead me to one conclusion: I barely have time for everything, even for myself.

Ini menimbulkan rasa bersalah juga di benak gue. Udah dua minggu terakhir ini gue nggak bisa membantu di Sekolah Minggu. Bener sih kalau mengasuh di sana itu sifatnya sukarela, tapi entah kenapa gue ngerasa udah terikat di situ. Gue nggak enak aja, udah dapet kepercayaan, eh gue-nya nggak dateng mulu.

Bukannya gue nggak mau, tapi gue emang nggak bisa. Gue bukan makhluk uniseluler yang bisa membelah diri dengan enaknya. Kalau bisa membelah diri, mungkin udah ada 10 Devina Heriyanto.

Waktu rasanya sangat berharga sekarang. Sangat terbatas. Dan waktu yang gue punya, sayangnya, nggak terlalu banyak.

Tips untuk orang-orang yang masih punya banyak waktu: jalanin dengan penuh kesadaran. Live every second you have, because you’ll never get it back.

One thought on “Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s