Arti Kebangkitan Nasional

Kemarin pas gue sampai di sekolah, pemandangan yang pertama terlihat adalah anak-anak pramuka yang sedang duduk di lobby. Pasti mau upacara, begitu gue pikir. Dan begitulah kenyataannya. Mereka memang mau upacara. Cuma sampai detik itu, gue nggak tahu mereka upacara untuk memperingati apa.

Saat pelajaran kedua, Kewarganegaraan atau kerennya disebut PKn, barulah gue tahu. Ini Hari Kebangkitan Nasional.

Semua anak sehat dan tidak kurang gizi di Indonesia tahu bahwa Hari Kebangkitan Nasional itu memperingati berdirinya organisasi kebangsaan pertama: Budi Utomo.

Kenapa berdirinya Budi Utomo patut kita peringati? Karena Budi Utomo inilah yang nantinya akan mempelopori berbagai organisasi kebangsaan lainnya. Organisasi-organisasi itu berasal dari latar belakang yang berbeda, memiliki pemikiran yang berbeda pula, dengan segala keterbatasan mereka, memiliki tujuan yang satu: kemerdekaan.

Seratus tiga tahun berlalu, sebuah masalah baru muncul.

Pemuda di masa ini, tidak lagi memiliki semangat perjuangan seperti yang dimiliki pemuda-pemuda pada awal 1900-an. Kenapa? Karena tidak ada lagi tujuan yang harus mereka perjuangkan. Kemerdekaan dari tangan penjajah telah kita raih. Kalian yang baca post ini, dan juga gue, sudah menikmati hidup sebagaimana adanya. Nggak ada satu pun dari kita yang perlu susah payah untuk makan. Nggak perlu susah payah untuk sekolah. Nggak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk sekedar berorganisasi, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.

Tidak ada lagi sesuatu yang memaksa kita untuk bersatu.

Ada yang pernah berpendapat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang baru bersatu ketika kita dilanda bencana. Ironisnya, itu benar. Saat sesuatu yang hebat melanda negeri ini, baru kita ramai-ramai menunjukkan nasa nasionalisme yang biasanya tersembunyi entah di mana. Saat tsunami melanda saudara sebangsa, kita ramai-ramai mengirimkan bantuan. Saat batik diklaim negara tetangga, kita ramai-ramai memakai batik. Di hari-hari biasa, saat kita sedang mengendarai mobil dan seseorang meminta sedikit belas kasihan kita, apa yang kita lakukan? Cuma, “Maaf Bu, Pak.”

Yang kita perlukan sekarang adalah konsistensi dalam mencintai negara Indonesia. Konsisten dalam semangat menolong sesama bangsa Indonesia. Semangat membawa perubahan besar ke tanah air tercinta.

Kemerdekaan yang diimpikan para pemuda seratus tiga tahun yang lalu telah tercapai. Kita sebagai generasi pemuda masa kini harus mempunyai sebuah tujuan yang jelas, yang kita impikan bersama, yang dapat memaksa kita untuk bersatu demi mencapainya.

Kita butuh sebuah tujuan yang berkelanjutan. Ketika kemerdekaan yang dahulu diimpikan oleh para pemuda telah tercapai, perjuangan mereka telah selesai. Kita butuh sebuah tujuan yang tidak terbatas. Sesuatu yang meski saat ini kita impikan dan nantinya tercapai, ketika benar-benar telah tercapai, kita akan memimpikan sesuatu yang berkelanjutan. Mimpi yang tidak pernah berakhir.

Memajukan Indonesia.

Bagaimana kita mencapainya? Belajar dengan giat saja tidak cukup. Untuk memajukan bangsa ini, ilmuan-ilmuan hebat saja tidak cukup. Kita butuh bakat-bakat lain di luar bidang akademis. Kita butuh diplomat-diplomat ulung seperti Sutan Syahrir. Kita butuh idealis seperti Soe Hok Gie. Kita butuh seorang seniman besar. Kita butuh sastrawan hebat.

Kita semua punya potensi untuk menjadi nama-nama yang akan dikenang sebagai pembawa kemajuan di Indonesia. Yang kita butuhkan cuma satu: konsistensi.

Kita harus konsisten memperjuangkan mimpi kita di saat orang lain menentangnya. Tentangan orang lain bukanlah ancaman besar dalam pencapaian mimpi kita. Ancaman yang terbesar adalah ketika keraguan muncul dari dalam diri kita sendiri.

Soe Hok Gie, seorang idealis yang hidup pada zaman peralihan Orde Lama ke Orde Baru pernah berkata:

Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.

Sekarang bisa saja kita mengecam kinerja dewan perwakilan rakyat atau mengutuk para koruptor. Tapi tidak ada jaminan bahwa kelak ketika kita dewasa, kita tidak akan menjadi seperti orang yang kita kecam saat ini.

Yang kita butuhkan saat ini bukan hanya ide-ide brilian. Tapi juga semangat perjuangan dan idealisme yang konsisten.

Konsisten dalam memajukan Indonesia, konsisten dalam semangat meraih cita-cita bangsa, konsisten dalam mencintai Indonesia.

SELAMAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL!

One thought on “Arti Kebangkitan Nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s