Berkah Utama

Post berikut ini adalah rangkuman dari Dhammadesana malam minggu kemarin (11/06/2011) oleh Y.M. Bhikkhu Dhammiko saat puja bhakti pemuda Vihara Sariputra.

Setiap tahun, kita selalu merayakan tahun baru. Tahun baru yang kita rayakan bukan hanya satu, melainkan banyak jenisnya. Setiap 1 Januari, kita merayakan Tahun Baru Masehi. Sekitar akhir Januari sampai pertengahan Februari, kita yang keturunan Cina merayakan Tahun Baru Imlek. Ada Nyepi sebagai Tahun Baru Saka dan orang Jawa pun merayakan Satu Suro. Waisak pun dikategorikan sebagai tahun barunya umat Buddha, karena setiap Waisak lah tahun Buddhis bertambah satu.

Dari sekian banyaknya tahun baru, yang paling menarik adalah Tahun Baru Imlek. Kenapa? Jauh-jauh hari sebelum Imlek, pasti sudah ramai persiapan dan pembicaraan. Apa yang menjadi pokok pembicaraan? Peruntungan (hoki). Setiap Imlek, terjadi pergantian shio (lambang hewan) yang akan berkuasa sepanjang tahunnya. Banyak buku di emperan jalan sekalipun yang membahas tentang peruntungan shio anda selama tahun ini. Bahkan, pernah ada SMS yang mengabarkan puja bakti yang akan diisi oleh sebuah dhammadesana oleh seorang pandita yang temanya, “Peruntungan Anda di Tahun Kelinci Emas.”

Yang menjadi pertanyaan adalah: pantaskah?

Sebagai umat Buddha, jika kita membicarakan peruntungan atau bahasa sehari-harinya berkah, kita seharusnya merujuk pada Dhamma. Dhamma yang diajarkan Sang Buddha telah dengan sangat jelas membahas tentang berkah, yaitu dalam Mangala Sutta.

Mangala Sutta dibabarkan sebagai jawaban atas pertanyaan seorang Dewa dari surga Tavatimsa mengenai apa itu berkah utama yang sebenarnya, karena hal tersebut telah menjadi perdebatan di alam manusia maupun alam dewa selama 12 tahun lamanya. Sutta ini dibabarkan pada saat menjelang pagi, di Vihara Jetavana di Kota Savathi yang dibangun oleh Anattapindikha.

Mangala Sutta terdiri dari 12 syair, satu syair pertanyaan dan 11 syair jawaban. Dari 11, 10 berisi berkah-berkah utama dan 1 syair merupakan kesimpulan. Dari 10 syair, masing-masing memuat 3 berkah (syair pertama, kedua dan keempat), 4 berkah (syair ketiga, kelima, keenam, kedelapan, kesembilan dan kesepuluh) atau 5 berkah (syair ketujuh), sehingga totalnya menjadi 38 berkah.

38 berkah ini membentuk pola praktek hidup sebagai umat Buddha, yaitu Sila, Samadhi dan Panna. Bagaimana bisa? Mari kita lihat:

Syair 1-2, berisi aturan-aturan dasar:

1. Tidak bergaul dengan orang yang tidak bijaksana

2. Bergaul dengan mereka yang bijaksana

3. Menghormat mereka yang patut dihormat

4. Hidup di tempat yang sesuai

5. Berkat jasa-jasa dalam hidup yang lampau

6. Menuntun diri ke arah yang benar

Syair ketiga, berisi pelatihan indera:

7. Memiliki pengetahuan

8. Memiliki keterampilan

9. Terlatih baik dalam tata susila

10. Ramah tamah dalam ucapan

Syair keempat, berisi pondasi sebagai umat awam:

11. Membantu ayah dan ibu

12. Menyokong anak dan isteri

13. Bekerja bebas dari pertentangan

Syair kelima, tentang kesejahteraan sosial:

14. Berdana

15. Hidup sesuai dengan Dhamma

16. Menolong sanak keluarga

17. Bekerja tanpa cela

Syair keenam, berisi tentang perlindungan diri:

18. Menjauhi, tidak melakukan kejahatan

19. Menghindari minuman keras

20. Tekun melaksanakan Dhamma

21. Selalu menghormat

Berkah ke 1-21 merupakan etika atau sila.

22. Rendah hati

23. Merasa puas

24. Berterima kasih

25. Mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai

26. Sabar

27. Rendah hati bila diperingatkan

28. Mengunjungi para pertapa

29. Membahas Dhamma pada saat yang sesuai

30. Bersemangat dalam menjalankan hidup suci

Berkah ke-22 sampai 30 merupakan samadhi.

31. Menembus Empat Kesunyataan Mulia

32. Serta mencapai Nibanna

33. Meski tergoda oleh hal-hal duniawi, namun batin tak tergoyahkan

34.Tiada susah

35. Tanpa noda

36. Penuh damai

37. Tak terkalahkan di mana pun juga

38. Serta berjalan aman ke mana juga

Berkah ke 31-38 merupakan panna.

Sungguh besar pahala dan kemajuan apabila samadhi dikembangkan dari sila yang baik. Sungguh besar pahala dan kemajuan apabila panna dikembangkan dari samadhi yang baik.

Batin yang baik mampu melenyapkan asava (kama, bhava dan avijja). Batin yang baik mampu merealisasikan nibbana dari praktek sila, samadhi dan panna.

Inilah berkah yang diharapkan, aman ke mana pun kita pergi, bahagia kapan pun waktunya.

Jadi, kalau mau peruntungan baik, laksanakanlah sila, samadhi dan panna.

Apa yang kita tuai, itulah yang kita petik.

Oleh karena itu, manfaatkanlah waktu yang kita punya sekarang sebagai manusia untuk meningkatkan kualitas hidup.

Sekian yang bisa disampaikan kembali, semoga bisa berguna bagi kita semua. Sabbe satta bhavantu sukhitatta. Sadhu sadhu sadhu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s