Jangan Setengah-Setengah

“Jangan setengah-setengah,” begitu kata orang bijak entah dari mana. Gue juga setuju banget sama kalimat itu.

A while ago, I tweeted something like this:

“Daripada setengah-setengah, mendingan nggak usah sekalian.”

Kata Harly, kalimat gue itu depannya emang bener. Belakangnya itu yang bermasalah, sesat abis.

Biasanya, prinsip itu gue aplikasikan dalam belajar. Daripada gue malas-malasan dan nggak semangat belajar, gue lebih memilih untuk santai-santai. Kenapa? Karena saat gue belajar setengah-setengah, hasilnya nggak akan optimal. Yang ada malah percuma, buang-buang waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk bersenang-senang atau tidur.

Berhubung hari Sabtu ini udah bagi raport, berarti (kemungkinan besar) gue akan menjadi siswi kelas XII sekitar dua minggu lagi. Setiap siswi kelas duabelas, sebenarnya siswa juga, memiliki sebuah PR masing-masing, berupa pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan mereka.

Mau kuliah atau kerja? Atau malah nikah?

Kalau kuliah, mau di universitas mana? Swasta atau negeri?

Mau ambil jurusan apa?

Itulah tiga pertanyaan terbesar bagi sebagian besar pelajar kelas duabelas. Nggak terkecuali gue.

Gue mau kuliah. Buat apa gue belajar duabelas tahun dari SD sampai SMA, limabelas kalau ditambah masa TK hanya untuk kerja atau nikah? Mendingan nggak usah sekalian. Ingat: jangan setengah-setengah.

Well, sebagai orang yang SMA-nya di negeri, entah kenapa ada doktrin bahwa perguruan tinggi yang bagus itu ya yang negeri juga. Swasta cuma buat yang nggak bisa masuk PTN lewat jalur manapun. Personally, gue orang yang sangat mementingkan merk, dalam membeli baju, sepatu ataupun memilih universitas. Setidaknya gue mau masuk ke bos-bos besarnya PTN Indonesia: UI, ITB atau UGM. Kalau nggak dapet tiga itu, mendingan gue masuk swasta. Swastanya pun nggak mau yang lain, President University. Kenapa harus PU? 1. Deket rumah. 2. Dapet jaminan kerja. 3. Koko gue di sana. 4. Kalau dapet beasiswa, biaya kuliah sampai lulusnya lebih murah daripada uang bangunan beberapa PTN.

Pertanyaan terakhir masih menjadi misteri bagi gue (halah). Tapi ingat, jangan setengah-setengah. Gue nggak mau masuk jurusan tertentu hanya karena kelihatannya cool. Jaman sekarang, memilih jurusan lebih sulit daripada memilih pasangan hidup. Salah memilih pasangan hidup: masih bisa cerai. Salah memilih jurusan: kehilangan waktu dan tentunya uang, plus jatuhnya IP secara drastis.

Jangan setengah-setengah. Jangan juga buang-buang waktu. Daripada memperdebatkan gelasnya setengah kosong atau setengah penuh, mending minum airnya sekalian.

One thought on “Jangan Setengah-Setengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s