Kelas Sebelas

Sewaktu awal-awal kami menjadi murid kelas sebelas, gue dan teman-teman pernah mengeluh di twitter. Seorang kakak kelas, yang mana blogger juga membalas dengan kalimat yang intinya menegaskan bahwa kelas sebelas memang puncaknya penderitaan menjadi siswa SMA Negeri 1 Cikarang Utara.

Sewaktu pertemuan sosiologi terakhir di kelas sepuluh, Pak Adar Mahdar menjelaskan tentang tipikal-tipikal guru yang akan kami temui di kelas sebelas. Saat itu, gue dan mungkin juga beberapa anak lainnya masih kurang percaya. Dalam benak kami tergantung keraguan. Masa iya guru-guru kelas sebelas separah itu?

Ternyata, setelah setahun menjadi siswa kelas sebelas, gue tahu dan percaya bahwa kata-kata itu benar. Guru kelas sebelas memang ‘ajaib’. Khususnya yang IPA sih ya.

Guru matematika, selalu mengajar papan tulisnya…

Guru fisika, well, pelajarannya aja fisika. Enough said.

Guru kimia dengan senyumnya yang mematikan itu…

Guru biologi, yang catatannya banyak banget dan soal ulangannya menjebak. Gue ga pernah yakin begitu selesai mengerjakan.

Guru TIK, yang dicurigai phobia cewek…

Guru seni rupa, yang cuma masuk ke kelas, menggambar di papan tulis, menyuruh murid, lalu keluar.

Guru Bahasa Inggris, yang malah diragukan kemampuan bahasa Inggris-nya…

Guru Bahasa Indonesia, dengan tugasnya yang seabrek-abrek…

Guru sejarah yang selalu datang terlambat, dan sialnya keluar kelas terlambat juga. Kami ingin pulang Ibu…

Guru PLH, yang selama setahun mengajar, statistik membuktikan bahwa topik favoritnya adalah ‘mind-mapping‘ dan ‘quantum learning‘. Pelajaran setahun ngebahas P4LH aja, nggak ada yang lain.

Yang paling mendingan cuma sensei sama guru penjas. Always listening, always understanding.

Kelas sebelas, adalah setahun di mana elu harus sahabatan sama rangkuman, catatan, ulangan, dan laporan praktikum. Damn you, LAPRAK!

Rasanya, baru sekarang praktikum, tiga hari lagi udah harus praktikum lagi. Hutang LAPRAK numpuk.

Belum lagi kalau lupa bikin rangkuman, catatan nggak lengkap, ulangan remedial, dan LAPRAK yang udah capek-capek dibikin ternyata dibalikin.

Plus, ketika kita santai-santai dan melupakan tugas Bahasa Indonesia, Si Ibu tercinta dengan medoknya mengatakan bahwa tugas itu dikumpulkan di pertemuan berikutnya. Kapan lagi ngerjain karya ilmiah dalam sehari?

Pembagian rapor kelas sebelas semester pertama, di mana nilai-nilai gemilang semasa kelas sepuluh terjun bebas begitu saja. Wali kelas memperjuangkan nilai-nilai kita. Apesnya kalau dapet KKM di rapor. Kesannya nggak pantes dilulusin…

Pembagian rapor kelas sebelas semester kedua, di mana nilai kita sekalinya naik nggak jauh-jauh banget. Palingan 2-3 poin, malah turun 14 poin. Di mana untuk pelajaran-pelajaran tertentu, kita malah bingung kenapa bisa dapet nilai bagus.

Praktek fisika bagus, padahal pas kumpulin LAPRAK cuma nyalin LKS doang. Tanpa analish*t data, tanpa jawaban pertanyaan. (Yah, setahun kelas sebelas dan semua LAPRAK itu, kami muak banget sama kata analisis.)

TIK bagus, padahal tugas-tugas yang seharusnya dikirimkan ke email Si Bapak sama sekali belum di-compose.

Penjas? Hampir semuanya dapet nilai 80 di praktek berkat absensi.

Sejarah juga bagus, padahal presentasi jarang, tugas ga pernah kumpulin. Cuma Ibu yang tahu dari mana asalnya nilai 90 itu.

PLH juga. Nilai 90 mungkin jatuh dari pohon dan tumbuh di rapor. Yang jelas, bukan dari kemampuan masing-masing siswa.

Kelas sebelas, masa-masa paling menderita. Guru-guru ajaib. Tugas bertumpuk. LAPRAK yang super duper memusingkan.

Belum lagi kelas sebelas, sebagian dari kami menjadi pengurus inti OSIS atau ekstrakurikuler. Dispensasi ini itu, rapat ini itu. Ngejar-ngejar tanda tangan wakasek sementara guru-guru di kelas menuntut banyak.

Tapi kelas sebelas, adalah masa-masa di mana kami semua belajar mandiri. Belajar bertanggungjawab dan bekerja di bawah tekanan agar entah bagaimana pun caranya, tugas dan LAPRAK dikumpulkan pas deadline dan ulangan mencapai KKM.

Kelas sebelas, masa di mana kami belajar tentang prioritas, tentang tanggung jawab, tentang bagaimana rasanya bekerja di bawah tekanan.

Masa-masa sulitlah yang menempa kami hingga siap dan tambah dewasa, hingga pantas menjadi siswa kelas duabelas. Percaya deh, praktikum-praktikum dan tugas-tugas yang rese itu bakalan berguna kok kalau kalian kuliah nanti.

Lega rasanya naik kelas. Lepas dari kelas sebelas. Lepas dari guru-guru rese itu.

Ya, guru-guru rese itu, yang selama setahun ini mendidik kita dengan cara ajaib mereka masing-masing.

Terima kasih; rangkuman, catatan, ulangan, LAPRAK…

Terima kasih, Pak, Bu…

Terima kasih, kelas sebelas…

7 thoughts on “Kelas Sebelas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s