Belajar dari Gie

Gue suka nonton film, tapi biasanya film barat. Film yang diproduseri, dimainkan dan di-edit oleh orang-orang yang kerja di Hollywood. Gue jarang banget nonton film Indonesia. Sekalinya nonton film Indonesia pun palingan gara-gara diajak temen, film itu bagus banget atau ada Nicolas Saputra-nya.

Tapi ada satu film Indonesia yang gue suka banget. Gue tonton berkali-kali. Gue hapal soundtrack-nya. Jalan ceritanya juga.

Gie.

Sesuai judulnya, film ini menceritakan tentang kehidupan Soe Hok Gie, aktivis di tahun 60-an, seorang pendiri MAPALA UI dan jurnalis. Film ini diangkat dari sebuah buku karangan Soe Hok Gie sendiri yang berjudul Catatan Seorang Demonstran.

Gie adalah sosok yang penuh idealisme, dia adalah salah satu orang pertama yang berpikir bahwa sudah saatnya rakyat Indonesia waktu itu berani berkata tidak kepada Soekarno. Namun ketika rezim Soekarno berakhir, dia pun tidak semena-mena tunduk dan membela Orde Baru.

Gie juga menginspirasi dan menyadarkan gue akan kekuatan sebuah tulisan. Pada masanya, Gie sering menulis artikel untuk sebuah koran yang isinya mengkritik pemerintah dan membela rakyat. Gie bukan idola yang sering muncul di televisi seperti anggota-anggota dewan masa kini. Gie dikenal lewat tulisannya. Bahkan, saat temannya ingin membeli peti mati untuknya, penjual peti mati itu memberikannya secara cuma-cuma karena dia begitu menyukai tulisan-tulisan Gie yang sering dibacanya.

Hal ini membuktikan bahwa meskipun hanya lewat tulisan, kita bisa menginspirasi orang banyak dan membuat sebuah perubahan.

Dalam buku hariannya, Gie pernah mengutip seorang filsuf Yunani:

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis:
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan,
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda,
Dan yang tersial adalah berumur tua.
Berbahagialah mereka yang mati muda.”

Berbahagialah Gie, karena dia mati muda. Gie meninggal 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, di puncak Gunung Semeru. Tapi pemikiran-pemikiran dan ide-idenya tetap hidup abadi dalam tulisannya.

Berbahagialah dalam ketiadaanmu, Gie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s