Would You Kill to Be Popular?

Popularitas bukanlah segalanya, melainkan satu-satunya.

Glam Girls: Reputation – Tessa Intanya

Beberapa minggu yang lalu, gue baru nonton film SCRE4M (untuk menghindari kesan alay, berikutnya akan disebut sebagai Scream 4). Baru, karena sinema terdekat dari rumah gue memang lambat dalam menayangkan film-film impor.

Mungkin kalian bingung, apa hubungannya popularitas dengan si ghostface? Well, we’ll get to that later.

Bagi yang ga pernah nonton ke-tiga film sebelumnya (seperti gue), jangan khawatir, kalian pasti masih bisa menikmati ceritanya kok (seperti gue).

Keunikan dari film ini menurut gue adalah openingnya. Pertama, kita dihadapkan dengan kasus pembunuhan yang ternyata adalah film yang sedang ditonton oleh orang-orang yang terbunuh dalam film juga. Barulah kita masuk ke film utamanya.

Kenapa unik? Karena ya jarang aja gitu. Menimbulkan element of surprises yang biasanya terdapat dalam twist.

Twist dalam film ini, meskipun nggak se-shocking dalam the Sixth Sense, menurut gue juga bagus. Siapa juga yang menyangka kalau ghostface yang ditakuti itu ternyata rela membunuh demi mengejar popularitas?

Ya. Ia rela membunuh bukan demi uang, barang, mobil, balas dendam atau hal-hal klasik lainnya. Tapi demi popularitas.

Stupid?

Ga juga. Banyak fenomena kaya gini sekarang, terutama di kalangan remaja cewek (seperti gue).

Not that they would kill to be popular, tapi fakta bahwa popularitas menjadi komoditi yang sangat mahal harganya sekarang.

Come on, siapa juga sih yang ga mau dikenal banyak orang? Being popular itu terlihat konyol bagi sebagian orang, tapi sangat penting bagi orang lain. Mereka ingin eksistensi mereka diketahui, bukan cuma itu, mereka ingin dihargai, dinilai lebih dari sebagian orang lainnya.

Seorang teman gue, sebut saja A, rela izin sekolah seharian penuh, untuk tampil dalam sebuah video klip band yang nggak terlalu tenar juga menurut gue, mengorbankan pendidikan selama sehari yang mungkin fatal untuk masa depannya demi uang seratus ribu.

Bukan honor yang dia cari, popularitas.

Emang seberapa pentingnya sih popularitas?

Penting ga penting sih ya. Tergantung cara pikir lu aja. Bagi gue pribadi, popularitas itu sesuatu yang penting tapi bukan sesuatu yang harus dikejar bagaimanapun caranya. If you’re deserved to be popular, it will come to you eventually.

Ga usah pamer-pamer kalau elu kaya, punya baju bagus, banyak teman atau otak lu sobek saking jeniusnya. Elu bakalan populer pake cara gitu, tapi ga punya reputasi yang bagus.

Popularitas sangat berkaitan dengan reputasi. Kalau elu anak baik-baik, aktif dan punya nilai jual, orang akan mengenal lu sebagai si A dengan reputasi ya bagus pula. Dengan makin banyaknya orang yang tahu reputasi lu, makin meningkat pula popularitas lu, baik atau pun jelek.

Bagi sebagian orang, ada juga yang berpikir bahwa lebih baik dikenal sebagai orang yang jelek daripada nggak sama sekali. They prefer people to talk behind their back, rather than not talking about them at all.

Popularitas membantu kita dalam hidup. Guru akan lebih baik sama lu kalau mereka tahu elu itu murid yang aktif. Orang yang ga lu kenal pun bakal lebih baik dan ramah sama lu kalau mereka udah tahu siapa elu sebelumnya.

Penting atau tidaknya popularitas itu tergantung cara pandang masing-masing. Ada menganggapnya sebagai hal nggak penting, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada yang rela mengorbankan semuanya demi popularitas.

So, would you kill to be popular?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s