Pengabaian Kalimat Iklan

Selama di Puncak, saya belajar bahwa ada hal yang sangat penting tapi kita sering abaikan, saya abaikan lebih tepatnya. Hanya saya anggap slogan, kalimat iklan yang sering kita dengar tapi jarang kita lakukan. Tapi, sepulangnya dari Puncak, saya bertekad untuk menyadarkan hati kita semua agar mematuhi kalimat paling bijak yang pernah diciptakan umat manusia ini agar tidak ada lagi yang mengalami nasib sial seperti saya.

Agar kalian bisa mengerti, marilah saya ilustrasikan nasib sial yang saya maksud itu.

***

A, tokoh utama dalam cerita ini, menghabiskan lebaran di Puncak. Tadinya liburan A berjalan dengan normal, sampai suatu ketika, seorang petugas PLN dengan tanpa dosa memutuskan arus listrik di seluruh Kota Bunga hanya karena THR tahun ini kurang untuk biaya mudik. Mati lampu.

A ke ruang keluarga untuk berkumpul dengan yang (jelasnya) keluarganya. FYI, ruang itu juga digunakan untuk makan. Salah seorang sepupu A berada di sana untuk (jelasnya) makan, dan dia minta A mengambilkan sambel.

A ambilkan.

Sambelnya jatuh. Berceceran membuat ruang keluarga itu seperti pabrik sambel terasi.

A bersihkan, lalu dia ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki agar tidak dikejar-kejar anjing tetangga karena bau terasi. Di sinilah kesialan berikutnya terjadi, handphone A terjun bebas dari kantong. Mungkin karena ingin mandi juga supaya ga bau terasi. Apa daya, badannya (handphone, bukan A) yang sudah ringkih berantakan di mana-mana. A segera menyatukan casing-nya, lalu ke kamar. Sesampainya di sana, A berusaha menyalakan handphone A. Tidak bisa. Mungkin karena basah, pikirnya waktu itu.

A buka casing belakangnya, memeriksa apa baterainya basah atau bagaimana. Ternyata tidak. Karena baterainya… NGGAK ADA.

Seperti apa yang dilakukan orang panik pada normalnya, dia lari ke bawah dan segera masuk ke kamar mandi. Baterai yang dia cari tergeletak tak berdaya di lantai. Untung nggak ada yang pipis setelah dia masuk kamar mandi.

Setelah masalah handphone beres, dia naik lagi ke atas.

Ada yang salah dengan matanya. Seperti ada sesuatu. Debu, mungkin.

Dia mengucek mata. Bukannya terasa enakan, matanya malah tambah perih. Karena masih ada sisa sambel di jari yang dia gunakan untuk mengucek mata.

Kalian kira diputusin pacar itu pedih? NOOO! Itu nggak ada apa-apanya. Pedih adalah mata yang terkena sambel terasi. True story.

***

Mungkin kalian langsung menduga kalau A itu saya. Well, bukan. Saya nggak akan pernah mengalami hal sesial itu… dua kali.

Makanya saya ingin berbagi dengan kalian, dengan satu-satunya cara yang saya bisa: menulis.

Di post kali ini, saya akan menekankan pentingnya mematuhi kalimat berikut ini:

Cuci tangan pakai sabun.

Kalimat ini biasanya saya abaikan. Karena sering kita menganggap bahwa kotoran di tangan sudah menyerah dengan bilasan air bersih, jadi nggak usah pakai sabun segala. Tapi ada beberapa bahan kimia yang membandel dan membutuhkan sabun agar bisa hilang.

Jadi, inti post ini cuma satu: CUCI TANGAN PAKAI SABUN!

Trust me, it works.

 

PS: nggak cuma kalimat ini aja sih yang kita sering abaikan, tapi supaya lebih fokus cuma ini yang saya tekankan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s