Pada Suatu Hari…

Setelah baca-baca blog salah seorang adik kelas, gue baru sadar satu hal. Gue telah melupakan tema paling mendasar dalam menulis. Melupakan sesuatu yang sebelumnya menjadi alasan utama bagi gue untuk menulis. Seperti kacang lupa pada kulitnya, gue telah mengkhianati hal yang paling mendasar itu. Gue menjadi kerbau yang dicocok hidungnya, mati-matian ingin menulis sesuatu yang bermutu, menulis kalau ada ide mantep yang muncul, menulis dengan penuh idealisme. Padahal itu jauh dari ideal gue pada awalnya.

Dari zaman gue SD sampai SMP, setiap selesai liburan atau study tour, sudah menjadi tradisi bagi guru Bahasa Indonesia (waktu SD sih wali kelas, berhubung Beliau merangkap hampir semua pelajaran) untuk memberikan tugas mengarang. Tentang apa? Nggak usah disuruh lagi semua anak juga udah tahu. Pengalaman yang paling menyenangkan, pengalaman yang blablabla. Intinya pengalaman.

Itu yang udah nggak pernah gue bahas lagi di blog ini. Hidup gue sendiri.

Untuk itu, gue mendedikasikan post ini untuk bercerita tentang hidup dan apa yang terjadi kepadanya akhir-akhir ini.

***

There’s a first time for everything. 

Yeah, hapal banget gue kalimat itu. Klise. Tapi sangat benar, karena gue baru saja mendapatkan salah satu dari banyak pengalaman pertama.

Bukannya maksud sombong atau apa, semenjak masuk SMA, gue bisa dibilang menjalani on-off relationship dengan pelajaran yang satu ini. Gue menguasai pelajaran ini, atau setidaknya gue pikir begitu sampai kurang lebih beberapa minggu yang lalu.

Gue sombong bukan karena tidak ada basis yang jelas. 83% ulangan kimia gue nilainya 100, bahkan sewaktu kelas XI hanya ada satu yang tidak mendapat nilai 100, ‘cuma’ 93. Gue dua tahun berturut-turut memegang peringkat pertama di bidang kimia dalam seleksi OSN di wilayah Kabupaten Bekasi.

Bisa dibilang, semua prestasi gue berasal dari kimia. Tentunya beribu-ribu terima kasih patut dilayangkan kepada Ibu Dewi Kulsum, pembimbing Olimpiade Kimia selama dua tahun ini. Yang dulu sewaktu kelas X pernah menggantikan Bu Melly, guru (jelasnya) kimia gue saat itu, dan dialah yang menemukan chemistry antara gue dan kimia lalu kemudian mengajak gue ikut bimbingan olimpiade yang membawa prestasi itu.

Kelas XII ini, dialah wali kelas gue.

Kelas XII ini, dialah guru kimia tetap gue.

Pada suatu hari, di kelas XII, gue remedial kimia.

 

Konyolnya, itu karena gue melupakan satu variabel penting: faktor van Hoff.

Jangan ditanya gue nyeseknya kaya apa. Gue nangis di depan kelas di hari gue tahu kabar buruk itu. Meski teman-teman dan pacar gue meyakinkan bahwa remedial adalah suatu kejadian yang normal dijalani oleh anak SMA normal pada umumnya, tapi tetap saja…

Kenapa harus kimia?

Guru gue waktu kelas XI, bahkan tahu kabar itu. Saat kami bertemu di kantin dan gue cium tangannya, dia langsung berkata tanpa tedeng aling-aling, “Gimana sih, kimia remedial.”

Saat itu gue benar-benar menahan tangis.

Call me a drama queen, tapi itu yang benar-benar gue rasakan. Nyesek.

Tapi itulah. Mau gimana lagi? Seperti faktor van Hoff yang udah sukses bikin gue remedial, inilah salah satu faktor dalam kehidupan.

You’ll never know how much a perfect score means when you never fail before. True story.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s