KISS: Keep It Simple, Stupid!

Sebelumnya, judul di atas bukan murni ide dari otak gue sendiri. Itu salah satu judul thread di Kaskus, membahas hal yang sama, namun kali ini gue akan menceritakan pengalaman gue sendiri.

***

Sabtu ini, pelajaran pertama bimbel adalah fisika, yang diajar oleh the magnificent Ibu Ida Rosida. Sembah sujud buat Beliau yang udah memberikan penerangan di bidang fisika kepada kami-kami ini, anak IPA yang sebelum masa Beliau, fisikanya hanya muatan lokal.

Beliau datang dan membagikan fotokopian soal, tanpa panjang lebar lagi, kami mengerjakannya (soal, bukan Bu Ida).

Saat dibahas, Bu Ida mengajarkan cara yang sebelumnya tidak pernah terlintas di otak gue yang bebal ini.

1. Menyelesaikan soal GLBB dengan cara geometris.

Tanpa rumus, soal geometri anak SD yang tidak terpikirkan anak SMA.

2. Menyelesaikan soal GVA dengan hukum kekekalan energi mekanik.

Ribet-ribet nyari ke Z, padahal di A pun sama saja.
Setelah diberitahu, rasanya bodoh banget udah berpikir ribet-ribet, muter-muter untuk menuju ke jawaban. Padahal ada jalan yang jauh lebih cepat.
Itulah kalau kita terbiasa menyelesaikan permasalahan dengan cara itu-itu aja. Seakan nggak ada cara lain, otak kita udah terprogram untuk menyelesaikannya dengan cara memutar dan menutup cara singkat itu.
***
Just for fun aja, ini kejadian lucu akibat kasus KISS ini:
  1. Salah satu dari kasus yang ada adalah kasus kotak sabun yang kosong,
    yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di
    Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang
    mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun (terbuat dari bahan
    kertas) kosong. Dengan segera pimpinan perusahaan menceritakan masalah
    tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua
    kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu
    alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian
    pengepakan dalam keadaan kosong.

    Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut.
    Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin
    sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua
    orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan
    memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi,
    mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak
    sedikit.

    Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan
    pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang
    rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah
    kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar
    dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin
    tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin
    tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari
    jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang
    ringan.

  2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka
    menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol,
    karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk
    memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan
    12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi
    pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam
    berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai
    dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius.

    Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia? Mereka menggunakan pensil!

  3. Suatu hari, pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggannya.
    Para pelanggan mulai merasa waktu tunggu mereka di pintu lift terasa
    lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Dia (pemilik)
    mengundang sejumlah pakar untuk memecahkan masalah ini. Satu pakar
    menyarankan agar menambah jumlah lift. Tentu, dengan bertambahnya
    lift, waktu tunggu jadi berkurang. Pakar lain meminta pemilik untuk
    mengganti lift yang lebih cepat, dengan asumsi, semakin cepat orang
    terlayani. Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.

    Tetapi, satu pakar lain hanya menyarankan satu hal, “Inti dari keluhan
    pelanggan anda adalah mereka merasa lama menunggu”. Pakar tadi hanya
    menyarankan untuk menginvestasikan kaca cermin di depan lift, agar
    pelanggan teralihkan perhatiannya dari pekerjaan “menunggu” dan merasa
    “tidak menunggu lift”.

(Sumber kasus: kaskus.)
Intinya: jangan dibikin ribet. Gitu aja kok repot? ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s