Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, itulah yang dicekokin ke anak Indonesia yang tidak kurang gizi sedari kecil. Mungkin, bagi beberapa orang, itu cuma sekadar jargon biasa. Kalimat iklan murahan. Tapi tidak bagi saya.

Entah kenapa, akhir-akhir ini saya teringat dengan guru saya sewaktu SD, Pak Yohanes. Dia bukan guru yang paling lama mengajar saya, bukan pula guru yang ngajarnya paling enak. Saya malah lupa gaya mengajar Beliau seperti apa.

Dia guru yang paling baik bagi saya, karena dia benar-benar pernah menolong saya.

Saya bersekolah di SD Karya Iman, sebuah sekolah di pedalaman Meadow Green, Lippo Cikarang yang berada di Kecamatan Cikarang Selatan. Rumah saya? Cikarang Utara.

Jarak yang sangat jauh, ditambah lagi orangtua saya yang tidak bisa mengantar jemput saya setiap hari membuat saya menyerahkan urusan transportasi ke jemputan. Panggil saja si Om.

Ketika saya kelas 3 SD, saya masuk siang dari pukul 12.00 sampai 17.20. Karena jarak yang jauh plus kemacetan yang luar biasa di perempatan Lippo, saya sudah terbiasa pulang malam. Padahal saya tidak main-main dulu, cuma jajan minuman sebentar lalu langsung pulang.

Suatu ketika, Om jemputan saya tidak menjemput.

Saya dan teman-teman lainnya menunggu. Tidak ada yang datang.

Hanya Pak Yohanes inilah guru yang menemani kami.

Singkat cerita, entah bagaimana, Beliau memutuskan untuk mengantarkan saya pulang. Saat itu sudah larut. Sekitar pukul tujuh. Akhirnya saya diboncengi Beliau, di atas motor bebeknya, menembus keramaian jalan dari Cikarang Selatan ke Cikarang Utara.

Cuma itu yang Beliau lakukan. Mengantarkan saya pulang. Tapi entah kenapa, ingatan itu berbekas di otak saya.

Melihat situasi saat itu, pasti banyak orang yang peduli dan kasihan. Tidak semuanya benar-benar cukup peduli untuk membantu. We didn’t need sympathy, we needed someone who would actually help.

Satu penyesalan saya, saya tidak pernah berterima kasih secara pantas kepada Beliau. Bahkan sejak lulus SD, saya tidak pernah lagi bertemu dengan Beliau.

Mungkin Beliau sekarang sudah tidak mengingat saya. Wajar, berhubung muridnya bukan cuma saya. Tapi bagi saya, cuma ada satu guru seperti dia.

Terima kasih, Pak.

PS: with all due respect, post ini tidak bermaksud mengecilkan arti guru-guru lainnya di mata saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s