Post Seorang Adik

Mungkin gue sudah beberapa kali menyinggung soal Koko gue, Steven Heryanto, tapi gue belum pernah membuat post yang khusus didedikasikan untuk dia. Well, here it is!

***

Dia adalah kakak pertama, dan satu-satunya.

Dia lahir pada tanggal 10 September 1990, dari rahim yang sama seperti yang pernah gue tinggali 17 tahun yang lalu. Dia lebih tua empat tahun dari gue.

Dia putih, tidak terlalu tinggi tapi lebih tinggi dari gue, dan nggak peduli sebanyak apapun dia makan, dia tidak pernah gemuk. He actually drank a weight gainer milk at some point, dan nggak ngaruh sama sekali.

Banyak orang yang tidak mempunyai kakak, banyak pula yang punya kakak, tetapi tidak dekat dan malah sering ditinggalkan kakaknya. Beruntunglah gue nggak pernah mengalami hal seperti itu.

Gue nggak pernah manggil dia Kakak atau Koko, tapi gue menghormati dia sebagaimana adanya.

Bukan cuma kakak, dia juga teman.

Kami sering mengobrol, karena banyak hal-hal yang tidak bisa gue obrolkan dengan orangtua gue. Kadang, gue hanya mendengarkan dongengnya tentang teman-temannya yang ajaib. Saat dia SMA, banyak sekali yang dia ceritakan. Hidupnya seakan bahagia sekali. Penuh warna. Itulah yang menjadi motivasi gue, bahwa nanti gue akan hidup sehidup dia. Beruntunglah, I live a very fulfilled life now.

Di samping menceritakan tentang pengalamannya bersama teman-temannya, dia juga melibatkan gue dalam pengalaman itu. Seperti kemarin, dia mengajak gue menonton bersama teman-teman kuliahnya. Kami nonton premiere Mission Impossible IV: Ghost Protocol di Bekasi Cyber Park. Itulah pertama kalinya gue nonton di Blitz Megaplex. Kemarin jugalah pertama kalinya gue makan pecel lesehan di depan ruko di pinggir jalan utama Cikarang Baru.

Motivasi gue yang bersumber dari dia bukan cuma itu.

You see, dia adalah orang yang sangat cerdas. Saat dia SMP, dia selalu ranking satu. Itulah kenapa gue mulai rajin belajar saat masuk SMP. Saat masuk SMA, dia mendapat peringkat satu di tes masuknya. Mengalahkan hampir seribu peserta. Itulah kenapa gue juga bertekad, dan berhasil, mendapat peringkat satu di tes masuk SMA.

Dia, adalah satu dari sedikit orang yang menginspirasi gue dan ikut membentuk gue sehingga menjadi, well, gue yang sekarang.

Banyak yang suka mengomentari gaya bicara gue yang katanya tajam dan menusuk. Percaya atau engga, gaya bicara dia jauh lebih dari gue. Mungkin karena gue biasa mendengarkan dia yang seperti itu, lama kelamaan gue pun terbiasa untuk bicara seperti dia.

Dialah yang menyarankan gue ngeblog, dan gue sangat berterima kasih padanya. Karena apabila dia tidak pernah menyarankan blogging kepada gue, mungkin gue nggak akan tahu bagaimana gue harus bercerita dan berbagi.

Mungkin, gue nggak akan pernah bisa menceritakan betapa awesome-nya kakak gue.

Mungkin, gue nggak akan pernah bisa membuat adik-adik lain ngiri karena mereka nggak punya kakak seperti punya gue. Semua orang memang cuma satu, tapi nggak semua orang menjadi satu yang bisa dibanggakan. Steven, adalah kakak yang sangat gue banggakan, meski gue nggak pernah berani ngomong langsung ke dia.

Mungkin, kalau dia nggak menyarankan gue ngeblog, dia nggak akan tahu betapa hormatnya, betapa bangganya dan betapa sayangnya gue sama dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s