Sebuah Harga

Om Jun: Saudara saya yang masuk arsitektur ITB, sebelumnya pernah di UnPar. Pertamanya dia nggak mau masuk negeri, takut. Tapi setelah didorong mamanya, akhirnya dia mau masuk ITB. Padahal sebelumnya udah beberapa hari kuliah di UnPar, akhirnya uangnya yang di sana hangus.

Gue: Sayang banget tuh.

Om Jun: Engga, itu harga untuk pendewasaan anak.

***

Ya, kadang kita terlalu berpikir tentang materi. Harga. Kita nggak mau membayar mahal untuk sesuatu yang memang bagus dan kita butuhkan. We settled down, too much if I may add.

Padahal kalau kita mau, kita bisa meraihnya. Kita bisa membayar harga yang mahal itu. Hanya saja, bagi kita, terkadang hidup seperti berjudi dengan resiko yang terlalu besar. Lebih besar dari yang berani kita ambil.

Gue pernah baca dari majalah National Geographic Indonesia, perbedaan yang mencolok antara pemuda dan orangtua adalah masalah pengambilan resiko. Untuk hasil yang sama, pemuda lebih berani mengambil resiko yang lebih besar dibandingkan orangtua.

Gue, dan juga kalian yang baca blog ini, masih pemuda. Kita seharusnya berani mengambil resiko. Berani membayar mahal untuk mendapatkan sesuatu yang berkualitas.

Berani berkorban untuk hidup. Bukan untuk hidup orang lain, karena toh hasilnya untuk kita juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s