Bahagia Saat Ini Juga

Berikut ini adalah rangkuman dari dhammadesana yang dibabarkan oleh Pak Sukiman di kebaktian pemuda Vihara Sariputra, 17 Desember 2011.

“Apabila seseorang menganggap sesuatu yang berharga sebagai yang tidak berharga dan menganggap sesuatu yang tidak berharga sebagai yang berharga,

Maka ia akan mendapatkan sesuatu yang benar-benar tidak berharga.

Tetapi menganggap sesuatu yang berharga sebagai yang berharga dan sesuatu yang tidak berharga sebagai yang tidak berharga,

Maka ia akan mendapatkan sesuatu yang benar-benar berharga.”

– Yamaka Vagga

Apakah itu yang berharga?

Kebahagiaan. Orang berusaha melakukan apapun sekeras apapun untuk mendapatkan apapun, arahnya ya pasti pada kebahagiaan. Orang yang berbuat jahat pun ingin berbahagia, hanya saja caranya lah yang salah.

Semua orang ingin berbahagia, hanya saja kadang apa yang kita lakukan malah menjauhkan diri kita dari kebahagiaan itu sendiri.

Misalnya, lagi macet parah. Bener-bener nggak gerak, nggak bisa ke mana-mana. Pada umumnya orang akan marah-marah, tapi dengan marah-marah itu sama sekali tidak akan menimbulkan kebahagiaan.

Lalu gimana?

“Berada pada saatnya,” – Ajahn Brahm

Maksudnya, nikmati segala sesuatu yang ada sekarang. Adanya macet, ya nikmatilah macet tersebut. Nggak usah capek-capek ngomel, toh yang kena macet bukan cuma kita doing. Ngomel juga nggak bakal bikin jalanan lancar kan? Perhatikan saja tingkah orang lain yang marah-marah. Kadang, malah akan bikin kita senyum sendiri karena alasan simpel, “Untung gue udah nggak kaya gitu lagi.”

Ingat, kebahagiaan itu datangnya bukan dari orang lain, tapi dari diri sendiri. Orang lain mau menghibur kita kaya apa juga, kalau kitanya nggak mengolah pikiran kita untuk bahagia, ya nggak akan bahagia.

***

Orang itu suka mengoleksi masalah.

Contohnya siswa yang masuk sekolah pagi, jam pertama adalah pelajaran fisika di mana gurunya killer abis. Ada PR dan karena sang guru rajin, diperiksalah satu per satu. Sialnya, dia nggak ngerjain. Habislah dia kena omel dan tentunya oleh-oleh tambahan. Kesel? Pasti!

Terus maksudnya ngoleksi masalah apa?

Habis diomelin, masiiih aja keingetan sampai jam terakhir. Istirahat yang harusnya seneng-seneng pun masih aja kesel bawaannya. Padahal kalo dilihat, si guru itu ngomelnya cuma sekali. Karena si anak keingetan terus, si anak ngerasa diomelinnya berkali-kali. Banyakan mana, si guru ngomel, apa si anak ngomelin dirinya sendiri?

Setiap kali dia inget, kali itu pula dia diliputi kebencian. Temen sekelas ngecengin, malah dianggep ngajak ribut. Satu masalah dikoleksi, menimbulkan masalah lainnya. Selama dia mengingatnya, selama itu pula dia jauh dari kebahagiaan.

Terus gimana?

Jangan melekat pada suatu kondisi yang menimbulkan ketidakbahagiaan. Coba abis ngomelin diterima aja, sambil tetap dijadikan pelajaran, asal jangan dilekati.

Pikiran kita itu sangat halus, susah disadari, makanya pengolahan pikiran harus dilakukan terus menerus. Dilatih. Nantinya kalau udah terbiasa, denger orang ngomel juga udah tahu harus ngapain. Tinggal dengerin, ambil hikmahnya, lalu lepaskan.

Dengan melepaskan masalah, momen kebahagiaan berikutnya pasti bisa kita nikmati dan tak akan terbuang sia-sia.

***

Satu lagi kebiasaan jelek kita, NGELUH!

Jaman sekarang, ngeluh makin gampang karena ada salurannya. Buka aja lini masa twitter atau home facebook, dari sekian banyak tweet atau status, pasti ada aja satu keluhan yang nyempil. Mending satu, lah kalau banyak gimana?

Pada saat kita ngeluh, yang kita rasakan itu bukan kebahagiaan. Ada yang bilang ngeluh itu berguna untuk melegakan perasaan, kalau memang bagus buat situ ya mengapa tidak? Asal jangan setiap sebel, kita merasa harus ngeluh dulu, baru bisa lega. Kalau udah ketergantungan sama ngeluh, bisa gawat. Ingat, ngeluh itu nggak membawa kebahagiaan. Nggak selaras sama tujuan hidup kita yang ingin bahagia. Pada saat kita ngeluh, saat itu juga kita menjauhkan diri sendiri dari kebahagiaan.

Contoh kasus, dua anak naik sepeda dan sama-sama jatuh. Yang satu bangkit terus main lagi. Yang satu nangis kejer. Padahal sama-sama jatuh, sama-sama lecet, tapi reaksinya beda.

Saat ditempa masalah, ada dua reaksi orang:

  1. Terima, nggak ngeluh, ya masalahnya sekali aja, nggak diungkit-ungkit, nggak menyelami masalah.
  2. Ngeluh, masalah diungkit-ungkit terus, ngingetin diri sendiri betapa nggak bahagianya dia. Ya terus aja terpuruk.

Bahagia dan masalah itu permainan pikiran.

Orang mau kena masalah semudah apapun juga, kalau mentalnya cengeng dan menolak masalah tersebut ya bakal tambah menderita.

Masalah itu di pikiran, penyelesaiannya juga di pikiran, nggak usah diumbar-umbar ke mana-mana.

Apa nggak boleh ngeluh?

Boleh, tapi ingat: sekali ngeluh, sekali menderita.

Terus gimana?

Sejelek-jeleknya kondisi yang elu alami, terima aja. Nggak akan berubah juga kalau ngeluh. Kalau ngeluh kita bakal makin menderita. Udah menderita karena kondisi aslinya, eh diingetin terus dengan keluhan. Ya makin menderita lah.

Tujuan yang kita harapkan itu kebahagiaan, maka lakukanlah sesuatu yang mengarah pada kebahagiaan.

***

Standar kebahagiaan setiap orang itu berbeda.

Ada yang bahagia kalau punya mobil mewah, ada yang bahagia kalau dapet beasiswa ke luar negeri, ada yang bahagia kalau guru nggak masuk. Pokoknya banyak lah syarat kebahagiaan yang lain.

Tapi jangan sampai lupa, tujuan aslinya ya bahagia. Kalau udah ‘blablabla’-nya itu cuma sarana aja. Sikilnya, orang banyak yang lupa tujuan aslinya dan malah mengejar sarana.

Saat orang mati-matian mengejar kebahagiaan, saat itu pula dia mati-matian membawa dirinya pada ketidakbahagiaan.

Misalnya, di pinggir sungai banyak orang yang mau nyeberang, butuh perahu. Banyak yang mati-matian bikin perahu hingga akhirnya mereka sampai ke seberang. Ada yang ingat tujuan aslinya adalah untuk nyeberang dan merasa bahagia saat udah berhasil nyeberang. Masalahnya, selalu ada aja yang mikir, “Gue udah mati-matian bikin perahu masa cuma gini doang sih.”

Tipe orang kedua, udah lupa sama tujuan awalnya. Dia nggak peduli bahwa dia udah memenuhi standar kebahagiaannya, dia malah bikin standar-standar baru agar dia bisa bahagia. Yang ada, kebahagiaan itu makin jauh dari dia.

Jangan pasang syarat yang macem-macem untuk bahagia, kalau sekarang aja kita bisa bahagia, kenapa harus pasang syarat sih?

Bahagia itu bukan tentang apa yang kita miliki, tapi gimana kita bisa puas dengan apa yang dimiliki.

Bahagia itu permainan pikiran, setiap saat kita bisa bahagia asal kita bisa mengkondisikan pikiran kita.

Kalau masih belum bisa, coba aja dengan pengkondisian fisik. Caranya: senyum. Sebuah studi membuktikan bahwa saat kita berpura-pura senang dengan cara senyum, otomatis pikiran kita akan terbawa happy juga.

Ingat, yang paling berharga itu kebahagiaan, jangan sia-siakan dengan yang tidak membawa kebahagiaan.

Sekian yang dapat disampaikan kembali, semoga bermanfaat bagi kita semua dan tentunya membawa kebahagiaan. Be happy!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s