Superman

Akhir-akhir ini saya senang sekali mendengarkan sebuah lagu, Superman (It’s Not Easy to be Me) dari Five for Fighting.

Awalnya, saya mendengar lagu ini dari sebuah tayangan infotaimen yang ditonton karena tidak ada tayangan bola pada suatu siang. Saya masih ingat, yang ditayangkan saat itu adalah klip Ariel, vokalis band yang dulunya bernama Peterpan, saat dia masih di penjara.

Klip itu menceritakan tentang Ariel yang bahkan saat di penjara pun masih menjadi seorang penyanyi dan menghibur rekan-rekan tahanan lain. Saat itu ada sebuah acara, mungkin sebuah pentas seni kecil-kecilan, dan Ariel menyanyi di sana.

Dia menyanyikan lagu Superman yang saya bahas tadi.

Saat itu, dia terlihat sangat menyatu dengan lagunya. Seakan-akan dengan menyanyikan lagu itu, dia juga mengungkapkan bahwa menjadi seorang Ariel itu tidak mudah.

Itu yang saya rasakan juga saat mendengar lagu tersebut.

* * *

Selama ini, beberapa orang yang tidak terlalu mengenal saya selalu berkata bahwa saya adalah orang yang sombong atau kelewat pintar karena selalu mendapatkan ranking satu semasa SMA. Mereka menganggap bahwa saya mendapatkan semua itu begitu saja, tidak seberapa dibandingkan perjuangan orang-orang yang rankingnya di bawah saya selama SMA.

Kenyataannya, mereka tidak sepenuhnya benar.

Saya akui, perjuangan saya memang tidak seberapa dibandingkan orang lain. Pada awal masuk kelas XII saja, kebanyakan teman saya langsung mendaftarkan diri mereka ke tempat bimbel. Saya juga, hanya saja batal karena Riris, teman sebangku sekaligus tebengan saya, tidak jadi mendaftar. Ketika SNMPTN, orang-orang tadi mengikuti kelas intensif di tempat bimbel mereka. Saya tidak.

Tapi saya juga berjuang. Di saat orang-orang mengikuti bimbel, mempelajari lebih dulu dan belajar dua kali tentang bahasan yang sama dengan saya, saya tahu bahwa saya tidak bisa meremehkan mereka. Saya pun belajar lebih keras saat di sekolah, berusaha lebih keras saat ulangan. Di saat orang lain mengikuti kelas intensif, tidak berarti saya santai-santai karena tidak ikut. Saya belajar sendiri.

Menjadi ranking satu terus menerus pun merupakan sebuah tekanan.

Guru-guru menuntut saya untuk selalu menjadi yang terbaik. Pernah, suatu kali saya mendapatkan nilai jelek di mata pelajaran kimia kelas XII. Saya remedial. Guru kimia kelas XI saya langsung menanyakan kenapa itu bisa terjadi. Memang wajar dia bertanya seperti itu, tapi saya merasa malu. Seakan saya mengkhianati nilai tinggi yang sudah dia berikan ke saya selama ini.

Itu masih belum parah. Karena kasusnya saya memang mendapatkan nilai di bawah KKM.

Kasus ini terjadi waktu saya kelas XII juga. Setelah beberapa kali ulangan dan selalu mendapat nilai 100 di mata pelajaran matematika, saya mendapat nilai 95. Guru matematika saya langsung mengatakan bahwa itu di bawah perkiraan dia terhadap saya.

Iya, saya dituntut untuk SELALU mendapatkan nilai 100.

Saya bukannya berniat pamer atau sombong dengan menceritakan kejadian-kejadian di atas. Bukan itu. Justru saya menulis ini, untuk memutarbalikan seluruh anggapan bahwa saya sombong, yang sejujurnya saya tidak tahu mengapa saya sampai dikatakan seperti itu.

Saya tidak pernah mengumbar nilai saya yang bagus. Tidak pernah mengumbar ketika saya menang lomba di bidang akademis. Tidak pernah mengumbar ketika saya mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi swasta. Tidak juga mengumbar ketika saya masuk sebuah PTN ternama.

Saya juga tidak pernah meremehkan orang lain. Jujur saja, saya adalah tipe orang yang sangat sangat tidak mau kalah dengan orang lain. Saya menganggap semua orang adalah saingan saya. Ketika seseorang mendapatkan nilai ulangan yang lebih tinggi dari saya, saya menganggapnya sebagai sebuah peringatan. Peringatan bahwa di ulangan selanjutnya saya tidak boleh kalah lagi, bahwa saya harus lebih baik dari dia.

Mungkin ada sedikit kesombongan dan sifat meremehkan orang lain yang saya tidak sadari keberadaannya tapi disadari orang lain. Untuk kalian yang merasa saya seperti itu, saya minta maaf karenanya. Tidak ada orang waras yang sengaja berbuat tidak baik.

* * *

Saya rasa, apa yang ingin saya sampaikan adalah bahwa semua orang, sehebat apapun, Superman sekalipun, tidak pernah merasa hidupnya mudah.

Mungkin di mata kita, sangat mudah menjadi dia dengan segala kelebihan yang dia punya.

Tapi semua orang bergelut dengan masalahnya masing-masing. Masalah yang mungkin kita tidak pernah hadapi, karena kita bukan dia. Masalah yang kita tidak pernah bayangkan sebelumnya, karena kita tidak pernah berada di posisinya.

Dia menjadi dia yang sekarang, dengan segala hambatan dan masalah yang sudah dia hadapi sebelumnya. Kita tidak pernah tahu, karena kita tidak mengenal dia saat belum sehebat ini. Kita tidak cukup peduli untuk memperhatikan orang-orang yang biasa saja. Kita hanya tahu dia yang sekarang, yang hidupnya luar biasa dengan segala kelebihan yang dia punya.

“I may be disturbed, but what you can see?
Even heroes have the right to plead.
It’s not easy to be me…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s