Being (Not So Far) Away

Beberapa orang melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Beberapa di luar pulau. Sebagian lagi berpindah provinsi. Ada juga yang hanya berpindah kota. Tapi ada pula yang melanjutkan pendidikannya di kota yang sama dengan yang ditinggalinya sejak kecil.

Saya termasuk yang terakhir.

Tempat saya kuliah, tidak sampai 30 menit dari rumah. Hanya dua kali naik angkot dan beberapa menit berjalan kaki. Sangat dekat memang, dibandingkan dengan teman-teman saya yang datang dari daerah lain. Tapi dekat, bukan berarti sama.

Lingkungannya sangat berbeda.

Cuaca misalnya. Rumah saya masih berada di daerah perkampungan. Banyak pohon, udaranya masih segar, angin masih rajin bertiup. Sedangkan kampus saya berada di daerah industri. Matahari tidak pernah malu bersembunyi di balik awan. Angin pun enggan bertiup. Pohon hanya memberikan perlindungan seadanya. Tidak heran kalau kulit makin terbakar.

Tempat tinggal pun berbeda. Sebagai mahasiswa tahun pertama, atau lebih kerennya disebut freshman, saya diwajibkan tinggal di asrama yang berada di seberang kampus. Yang biasanya sekamar sendiri, sekarang harus berbagi dengan seorang lagi. Yang biasanya di rumah hanya sedikit orang, sekarang harus berbagi dengan 21 orang lainnya. Yang biasanya kamar mandi luas, sekarang harus puas dengan tempat satu kali satu meter persegi. Yang biasanya makanan tinggal ambil di meja makan, sekarang harus mencari sendiri di resto atau di tempat lain.

Orang-orangnya pun jelas berbeda. Di tempat tinggal saya, rata-rata adalah orang Cikarang asli. Sejak lahir sudah tinggal di sini, sudah bergenerasi-generasi lamanya. Di asrama saya, hanya saya dan teman sekamar saya yang berasal dari Cikarang. Sisanya benar-benar pendatang. Tidak tahu apa-apa soal Cikarang. Padahal saya termasuk orang yang tidak pernah ke mana-mana, tapi di depan para pendatang ini, saya merasa tahu Cikarang.

Cara membedakan orang-orang dari dalam dan luar Jabodetabek sangat mudah. Penggunaan bahasa ‘aku-kamu’ dan ‘gue-elu’. Sesederhana itu. Lucunya, malah orang-orang Jabodetabek yang harus beradaptasi dengan para pendatang ini. Salah seorang teman saya, asal Bekasi, mendapatkan teman sekamar yang berasal dari Jogjakarta. Dia terpaksa menggunakan bahasa ‘aku-kamu’ setiap harinya. Ini sangat aneh bagi orang yang tidak terbiasa.

Kakak saya pernah berkata, tidak usah ke mana-mana untuk mendapatkan pengalaman dan bertemu dengan orang-orang baru dan unik. Mereka akan datang ke sini dengan sendirinya.

Memang begitulah yang terjadi. Tidak usah ke mana-mana untuk bertemu orang dari Sabang sampai Merauke.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s