Best-seller puluhan abad

Kira-kira tiga perempat dari hampir delapan belas tahun ini, saya menjadi minoritas.

Enam tahun sekolah dasar saya dilewatkan di sekolah (jelas) yang berada di bawah sebuah yayasan Katolik. Saya masih ingat doa yang diucapkan setiap akan memulai dan mengakhiri pelajaran, selalu diakhiri dengan Amin.

Masa putih abu-abu. Awalnya saya menjadi satu-satunya siswi seangkatan yang memakai rok pendek, sementara yang lain memakai rok panjang , yang mana saya selalu kesulitan berjalan bila memakainya. Sebagian besar dari mereka memakai kerudung untuk menutupi aurat. Setiap Hari Jumat, yang pria memakai seragam baju muslim dan menjalankan shalat Jumat.

Saya telah menyaksikan orang-orang yang begitu beriman dalam agamanya, menjalankan ibadah dengan taat dan sebagainya. Seringkali saya duduk di pelataran masjid, menunggu teman-teman shalat. Beberapa kali, saya melihat mereka mengambil wudhu dan berdoa. Sangat khusuk.

Iman itu indah. Sayang, saya bukan tipe orang yang memilikinya.

Saya beragama, menurut hukum Republik Indonesia, apa yang saya percayai termasuk agama. Tapi saya merasakan perbedaan antara saya dan agama saya dengan mereka dan agamanya masing-masing.

Saya tidak pernah percaya begitu saja. Saya cenderung skeptis. Selalu mempertanyakan hingga sedetil-detilnya. Kadang saya heran, kenapa dan apakah benar pernah ada manusia yang sesempurna itu dan kenapa manusia lainnya bisa percaya akan kesempurnaannya di saat contoh yang ada selama ini malah membuat makin skeptis.

Mungkin anda pernah mendengar tentang asal mula peradaban Hindu dan sistem kasta. Tentang bagaimana Suku Ariya berpindah melewati Celah Kaiber hingga tiba di peradaban Suku Dravida.

Saya suka sejarah, makanya saya masih mengingatnya sejak pertama kali mempelajarinya kala SMP.

Beberapa tahun kemudian, saya membaca sesuatu yang sangat mengejutkan. Bahwa teori yang saya pelajari dulu dari textbook, yang telah diketahui banyak orang lain pula, yang seharusnya sudah terbukti kebenarannya, ternyata hanyalah sebuah propaganda.

Ya, propaganda. Yang dibuat hanya agar Inggris lebih mudah menduduki India pada kala itu. Sebuah propaganda, yang kemudian dipercaya orang banyak.

Itu yang membuat saya bertanya-tanya.

Jangan-jangan, apa yang selama ini kita percaya tidak lebih dari sebuah kebohongan belaka. Bahwa sosok maha kuasa yang diagungkan selama ini tidak lebih dari alat untuk menakuti dan mengontrol perilaku manusia. Bahwa kitab suci yang selama ini diambil ayatnya untuk dimaknai, tak lebih dari fiksi best-seller buatan orang kreatif, bukan orang suci. Saya juga membayangkan bagaimana hancurnya dan gaduhnya manusia ini bila mereka dibohongi habis-habisan.

Untung saja, tidak seperti Teori Invasi Arya itu, muncul bukti-bukti arkaelogis yang menguatkan tentang kepercayaan kita. Bahwa memang ada orang itu, bahwa memang ada peradaban itu. Sayang sekali tulang belulang dan batuan tidak bisa menjelaskan soal sisi spiritualitasnya.

Yang bisa dilakukan sekarang hanya tetap percaya, beriman sebagaimana yang telah ditanamkan sejak kita kecil, atau tetap bertanya-tanya. Tanpa peduli kitab suci berkata apa.

3 thoughts on “Best-seller puluhan abad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s