Sebuah Kisah Klasik

Sekedar peringatan, ini bukan tulisan tentang lagu Sheila on 7. Jadi, bagi para penggemar band legendaris ini, maaf bila judul posting-an ini menyesatkan Anda.

Saya akan membahas dua buku terakhir yang saya baca. Ya, berhubung keterbatasan uang saya hanya sanggup membeli dua dari sekian buku yang saya taksir setengah mati.

  1. A Bartimaeus Novel: The Ring of Solomon karya Jonathan Stroud
  2. Dr. Jekyll & Mr. Hyde karya Robert Louis Stevenson

Novel pertama saya beli karena saya memang sudah terlanjur jatuh cinta dengan trilogi yang menceritakan hidup Bartimaeus, jin konyol, cerdas dan (sok) kuat. Mungkin ceritanya masih kalah dibandingkan dengan novel fiksi sejenis, tapi yang membuat saya begitu cintanya adalah cara penulisnya bercerita. Lebih spesifiknya, cara Bartimaeus bercerita.

Ring of Solomon ini mengambil latar Yerusalem di bawah pimpinan (jelasnya) Solomon. Bartimaeus yang konyol dan sok hebat memakan masternya sendiri, salah satu dari tujuh belas penyihir Solomon, sehingga dipanggil kembali oleh Sang Raja dan mendapat hukuman yang macam-macam. Kebetulan sekali saat membaca novel ini, saya sedang mempelajari negara Israel. Cuma trivia tidak penting sih, karena apa yang diceritakan novel ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang saya pelajari (sisi ekonomi dan politiknya).

Kerajaan Israel pada zaman Solomon terkenal kuat dan ditakuti karena Solomon mempunyai sebentuk cincin yang di dalamnya bersemayam sebuah entitas super kuat yang bisa melakukan apa saja dalam sekejap mata. Israel zaman sekarang terkenal kuat dan ditakuti, kadang juga dibenci, akibat stereotipe orang Yahudi sebagai bangsa yang licik dan penuh konspirasi.

Novel kedua saya beli karena terkenal. Ya, sebatas itu.

Novel ini sering disebut dalam berbagai bacaan yang sebelumnya pernah saya baca (contoh kalimat yang tidak baik karena semua bacaan pastinya dibaca dan bukan dicerna, secara harfiah). Saking terkenalnya itulah, saya tahu bahwa Dr. Jekyll dan Mr. Hyde itu hanyalah alter ego dari satu sosok. Mungkin itu sebabnya saya kurang menikmati novel ini, karena tidak ada misterinya. Saya sudah tahu kisahnya.

Tetap saja novel best seller satu abad lebih ini layak (dan sangat direkomendasikan) untuk dibaca.

Kedua novel ini, sama-sama menawarkan kisah klasik yang tidak habis termakan usia.

Oh iya, sebenarnya ada lagi (banyak) novel yang ingin saya beli. Dua di antaranya adalah the Godfather karya Mario Puzzo dan To Kill A Mockingbird yang saya lupa pengarangnya siapa. Dua-duanya sama-sama terkenal, klasik, dan sudah diangkat ke layar lebar. Alasan saya ingin membacanya adalah karena saya sudah menonton filmnya. Tapi film mempunyai keterbatasan, film tidak mampu mendeskripsikan dan mengikat penontonnya lebih dalam. Setidaknya bagi saya begitu.

Semoga liburan ini, saya bisa menambah daftar bacaan (dan tulisan tentunya) saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s