Aftershock

Kalau film berdurasi dua jam yang mampu membuat saya menangis hingga pilek sementara tidak masuk dalam kategori sedih, saya tidak tahu lagi apa yang dimaksud dengan sedih.

Aftershock menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga yang tercerai-berai, baik secara keutuhan keluarga, fisik dan mental sejak gempa 1976 di Tangshan, China.

Ya, ini bukan film Hollywood. Tidak ada drama menye-menye, quotes brilian dan adegan dramatis. Tapi film ini dapat menguras air mata dengan caranya sendiri.

Tidak seperti drama kebanyakan yang seringkali membuat orang mengantuk, film ini berjalan dengan alur yang cepat. Pergantian adegan terjadi begitu saja. Kadang, ada gap antara scene satu dan seterusnya. Tapi itu tidak mengganggu, karena kita pasti bisa mengisinya sendiri.

***

Menurut saya, adegan paling krusial di film ini adalah saat sang ibu diminta memilih. Saat itu kedua anak kembarnya, laki-laki dan perempuan, terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat gempa. Hanya ada satu yang bisa diselamatkan. Bila satu sisi diangkat, satu anak selamat dan satu anak akan hancur.

Sang ibu memohon, berkali-kali, dengan sepenuh hati, “Selamatkan keduanya.”

Dia sudah kehilangan suaminya. Dia tak sanggup kehilangan satu orang lagi.

Tapi hidup tidak bisa ditawar, dia selalu minta pengorbanan. Si ibu benar-benar harus memilih. Waktu berjalan makin cepat, bila dia tidak kunjung memilih, besar kemungkinan dia malah akan kehilangan keduanya.

“Selamatkan putraku,” dia memutuskan pada akhirnya.

Dia membawa putranya yang sudah tidak sadarkan diri ke bagian medis. Beberapa lama kemudian, diperlihatkan sang ibu dan putranya yang sudah sehat kembali ke Tangshan. Ada satu yang kurang, lengan kiri sang putra. Ya, lengan itu hancur tertimpa bangunan.

Mereka hidup berdua, di sebuah rumah baru, dengan altar* yang diatasnya bergantung dua foto: sang suami dan anak perempuannya.

Ia tak pernah tahu, bahwa ternyata anak perempuannya masih hidup. Menanggung luka hati yang mendalam akibat menjadi pihak yang dikorbankan. Luka hati yang tak pernah sembuh selama bertahun-tahun.

***

Seperti yang saya bilang sebelumnya: hidup tidak bisa ditawar, dia selalu minta pengorbanan. Mungkin ini adalah hal yang biasa. Kita berkorban setiap hari. Untuk makan, harus bayar. Itu salah satu bentuk pengorbanan kan? Tapi bagaimana kalau yang dikorbankan adalah nyawa orang lain? Terlebih, anak sendiri?

Hati kita hancur, sudah pasti.

Yang lebih hancur lagi adalah pihak yang dikorbankan itu. Bayangkan, anda sama-sama tertimpa puing yang beratnya jauh di atas berat badan anda. Saudara anda di sisi lainnya. Dan ibu anda, memilih saudara anda.

“Kenapa bukan saya?”

“Apa saya tidak cukup berharga?”

“Tidak adil.”

Dan banyak lagi suara hati yang akan terus menghantui anda selama masih hidup.

***

Gempa yang memisahkan mereka, gempalah yang mempersatukan mereka kembali.

Si anak perempuan, yang diadopsi orang lain, mendengar kabar bahwa terjadi gempa besar lagi. Ia tahu apa rasanya menjadi korban gempa, dia tahu bagaimana besarnya arti sukarelawan yang menolong korban itu. Dia memutuskan untuk menjadi salah satu pahlawan itu, membalas jasa orang-orang yang telah menyelamatkannya dulu.

Si anak laki-laki juga berpikiran sama.

Tanpa adegan dramatis – zoom-out, zoom-in, close up bergantian, “Abang…”, “Adik…”**, air mata dan sebagainya – mereka bertemu. Pulang ke rumah ibu, bersatu.

Saat itu, tidak ada lagi sakit hati karena dikorbankan. Karena si anak perempuan sadar, yang terpenting adalah saudara dan ibunya masih selamat.

Memang sederhana, karena cinta pada keluarga, mengalahkan apapun juga.

 

 

 

*Salah satu tradisi China, bila seorang sanak keluarga meninggal, maka yang masih hidup akan menyediakan meja (kadang lemari) untuk menaruh makanan dan minuman persembahan di hari-hari tertentu, hio lo (tempat dupa) dan lilin. Digunakan untuk media berdoa.

**Sebenarnya saya nggak tahu sih mana yang abang dan mana yang adik, tapi sudahlah.

5 thoughts on “Aftershock

    1. Menguras ingus dan air mata Ted. Terus sadis juga sih, benar-benar menampilkan kondisi yang mendekati sebenarnya, nggak tahu dilebihkan atau engga, saat gempa.

      1. Iya, trauma. Tapi yang cowoknya keren tuh, pas ada gempa kecil di kantornya, dia tetap tenang. Katanya, “Kalau gempa kecil, kita nggak usah lari. Kalau gempa besar, kita nggak bisa lari.” Hilarious.😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s