Belajar dari Amazon

Beberapa hari yang lalu, saya membuat akun Amazon agar bisa mendapatkan buku gratis untuk dibaca (jelas) dengan Kindle for PC. Untuk tutorialnya bisa dibaca di postingan ini, oleh Steven Heryanto.

Ketika saya ke warnet kampus yang juga memiliki fungsi sampingan sebagai perpustakaan, saya memanfaatkan koneksi internet super cepat dan gratisnya dengan mengunduh beberapa buku gratis dari Amazon tersebut. Sukses, sampai sekitar tujuh buku.

Kemudian tanda error muncul. Saya tidak bisa mengunduh lagi karena IP address saya (semacam kode komputer, saya juga kurang mengerti) berasal dari Indonesia dan tidak cocok dengan alamat yang saya gunakan di akun Amazon saya, yang mana beralamatkan di Amerika Serikat.

Kata kakak saya, hubungi saja costumer service-nya. Ceritakan masalah itu dan bilang sejujurnya kalau saya adalah orang Indonesia yang mencoba mendapatkan buku gratis via Amazon.  “Tenang, Amazon itu salah satu perusahaan yang baik kok,” katanya meyakinkan saya.

Jadi saya melakukannya. Saya hubungi costumer service lewat layanan chat yang disediakan di website Amazon. Saya sampaikan permasalahan saya, dengan jujur bilang bahwa saya mau buku gratis, sempat menggunakan alamat palsu, dan mereka tetap membantu saya. Sekarang saya bisa mengunduh buku gratis tanpa masalah lagi.

Mungkin prinsip ‘pembeli adalah raja’ benar-benar diterapkan oleh manajemen Amazon.

Senang rasanya diperlakukan demikian. Mereka menghargai pembeli, meskipun saya adalah pembeli yang tidak menghasilkan keuntungan karena hanya mengambil gratisan. Well, mungkin mereka tetap dapat keuntungan lewat iklan, tapi kan itu lain soal.

Berbeda sekali dengan costumer service Indonesia. Memang, beberapa baik dan sangat membantu. Tapi kualitas pelayanan di Indonesia masih sangat kurang. Apalagi pramuniaga di toko, restoran atau tempat lain.

Dosen Sosiologi saya pernah bercerita bahwa ketika dia ingin membeli di sebuah toko pakaian, pramuniaga di sana melayaninya dengan setengah hati. Berbeda dengan perlakuan mereka ke orang yang lebih fashionable. Seakan-akan dosen saya ini bukan konsumen yang perlu diperhitungkan. “Toh saya juga bisa bayar,” keluh dosen saya.

Beberapa waktu lalu di twitter juga sempat ramai karena salah seorang selebtwit diperlakukan dengan kurang mengenakan oleh pelayan restoran di Bali. Katanya, saat itu dia sedang tidak berdandan. Pelayan itu langsung menghakimi bahwa dia tidak akan sanggup membayar makanan di situ. Sehubungan dengan kejadian itu, beberapa orang lain menanggapi bahwa mereka sering mengalami hal serupa di Bali. Pelayan di sana lebih menghargai turis asing daripada turis domestik.

Menyedihkan.

Costumer service dan pelayanan lainnya adalah ujung tombak marketing. Selain kualitas produk dan jasa yang ditawarkan, pembeli juga menganggap hal-hal lainnya sebagai pertimbangan. Namun tampaknya, hal ini kurang diperhatikan oleh beberapa pengusaha Indonesia.

Mereka seharusnya belajar dari Amazon, bahwa pengincar buku gratisan pun tetap harus dilayani seperti seharusnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s