22 Desember, hari ayah saya

Kebanyakan orang benci bau rokok, saya tidak.

Saya tidak bilang menyukainya, tapi saya juga tidak bisa benci. Karena bau itulah yang saya kenal sejak kecil, bau itulah yang melekat pada ayah saya semenjak saya lahir dan mengenalnya.

***

Banyak yang bilang saya mirip dengan ayah saya. Maksudnya, lebih mirip ke ayah dibandingkan ke ibu. Tidak hanya kemiripan fisik, namun juga sikap dan kebiasaan serta hal lainnya.

Setiap pukul tiga sore, ibu atau si mpok di rumah akan membuatkan kopi hitam dan ditaruh di atas meja depan televisi, agar nanti ketika ayah saya pulang dari toko, kopi tersebut sudah siap diminum.

Setiap saya bangun tidur, si mpok sudah langsung membuatkan kopi untuk saya.

Bila disuruh memilih antara Inter dan AC Milan, ayah saya memilih yang kedua. Kakak saya pecinta Inter, saya sempat menggemari Milan.

Ayah saya benci Barcelona. Mereka sering dibantu wasit, katanya. Saya menggemari Real Madrid, karena dulu ada Beckham-nya, otomatis saya juga tidak menyukai Barca.

Waktu muda dulu, ayah saya hampir setiap hari naik kereta dari stasiun Cikarang ke daerah Kota, Jakarta hanya untuk menonton film. Sampai sekarang pun, ayah saya selalu membawa pulang DVD lima ribuan dari pasar untuk kemudian ditonton di rumah.

Saya? Tidak usah ditanya, dari yang hanya tahu menonton di bioskop saat SD, mengenal DVD bajakan saat SMP, sampai sekarang di zaman mengunduh, saya selalu suka menonton film. Beberapa hari ini saja, sedikitnya satu hari saya menonton satu film.

Kakak saya juga suka menonton film, namun tidak sesering saya dan ayah.

Meskipun tim bola favorit mereka berbeda ā€“ sebenarnya ayah saya tidak punya tim yang dia sukai, tapi tim yang dia benci, ada banyak ā€“ mereka saling mengingatkan satu sama lain saat ada pertandingan sepak bola yang ditayangkan di televisi. Mereka akan nonton berdua, kadang sampai pagi. Berteriak-teriak dengan hebohnya sampai terdengar ke kamar saya.

Ayah tidak pernah ikut bila keluarga kami jalan-jalan. Dia tidak suka menghabiskan waktunya terjebak macet. Dia akan selalu mengomel. Sejujurnya, dia selalu mengomel tentang apapun. Ada saja yang diprotesnya, sampai-sampai kami yang sudah lama mengenalnya hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Apalagi Mandra, pegawai toko yang sudah membantunya sejak dia masih bujangan (ayah saya, bukan Mandra).

Kadang, kami hanya mengiyakan saja. Sudah biasa.

Meskipun begitu, ayah saya tidak dihindari orang. Semua tahu dia orang baik, hanya saja kadang menyebalkan. Dia ramah pada tetangga, dan dibalik kaos singlet dan perawakannya yang besar dan menakutkan, dia sangat menyukai anak kecil.

Favoritnya saat ini adalah Marcel. Jika bocah tiga tahun itu main, semua keinginannya akan dituruti. Mau menggelar kasur lipat, hayo. Mau jajan ke depan, hayo. Mau main senter, hayo. Mau apapun, ayah saya akan menurutinya. Bahkan ketika cermin di atas wastafel pecah karena terkena lemparan bola Marcel, ayah saya hanya tertawa. Bayangkan, ayah saya yang sebentar-sebentar mengomel karena hal kecil, hanya tertawa melihat cerminnya pecah belah.

Mungkin itu sebabnya anak kecil menyukainya. Sepupu saya, anak dari adik ibu, tiga bersaudara yang hiperaktif termasuk Marcel, semuanya memanggil ayah saya Papi. Sepupu saya yang lain, anak dari kakak ibu, memanggil ayah saya Papi tapi tetap memanggil ibu saya Iih (tante). Padahal harusnya dia lebih dekat ke ibu saya yang jelas-jelas punya hubungan darah dan mengurusi dia lebih dulu.

Tapi tetap saja, kekeluargaan tidak sebatas kesamaan genetika.

Sejak sebelum dia menikah, ayah saya mempunyai seorang teman. Mereka sangat akrab, menyempatkan bertemu dan mengobrol, setidaknya seminggu sekali, entah di luar atau mampir ke rumah yang satu atau lainnya. Bertahun-tahun kemudian, ketika saya masuk SMA, ayah saya memberitahu bahwa anak temannya itu juga masuk sekolah yang sama.

Kami sekelas. Awalnya saya diam saja, saya kira cuma saya yang tahu bahwa kedua orangtua kami akrab. Tiba-tiba, dia menegur saya, “Bokap lo kan temennya bokap gue Dev.”

Dengan fakta itu, setiap ada acara kelas atau apapun, saya selalu meminta izin ke ayah saya dengan teman saya sebagai jaminan antar-jemput.

Ketika ayah teman saya itu berpulang, bukan teman sekelas yang mengabari saya, tapi ayah saya. Dia langsung mengajak saya ke rumah sahabatnya itu.

Hari itu, mereka berdua memang sudah janjian bertemu. Mengganti pertemuan sebelumnya yang gagal karena sahabatnya itu sakit. Siapa sangka, ini adalah pertemuan mereka yang terakhir.

Sejak itu, teman saya sering bercerita tentang ayahnya ke saya. Padahal saya juga tidak kenal ayahnya. Dia bilang bahwa ketika kecil dia sering main ke rumah saya, suatu hal yang tidak pernah saya ingat. Mungkin, selain keluarganya, dia merasa bahwa dia memiliki jalinan lain kepada ayah saya.

Setiap kami bertemu, dia selalu menitipkan, “Salam buat ayah ya Dev.”

***

Hari ini, saya yang punya sesuatu untuk diucapkan ke ayah saya.

Selamat ulang tahun Papa, kopi sudah di atas meja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s