5 cm.

Ini adalah sebuah film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Donny Dhirgantoro. Saya sudah membaca novelnya sejak kelas satu SMA, saya yakin begitu juga teman-teman saya, berhubung novel itu baru kembali setelah beberapa bulan dengan kondisi amat mengenaskan. Tapi film adaptasinya sendiri baru tayang 20 Desember 2012 ini.
Bagaimana filmnya? Lumayan, tapi banyak kekurangannya.

1. Timing
Film ini adalah tentang persahabatan, mimpi dan juga nasionalisme. Rasanya agak kurang tepat bila diluncurkan tanggal 20 Desember 2012. Apa makna pemilihan tanggal tersebut? Bila hanya mengincar tanggal cantik, well, saya minta izin untuk menggetok tim marketing-nya.

2. Casting
Bab pertama novel adalah pengenalan para tokoh, baik fisik ataupun karakternya. Dari masalah fisik saja sudah berbeda jauh dengan yang di novel.
Tokoh Arial di novel digambarkan sebagai yang paling ganteng, pemerannya di film kebanting oleh Herjunot dan Fedi Nuril. Mungkin seharusnya Nicholas Saputra yang dipilih (film apa saja akan lebih baik dengan adanya NicSap, percayalah).
Tokoh Genta digambarkan sebagai agak gempal, sedangkan pemerannya adalah Fedi Nuril yang, tanpa basa-basi, kurus. Meskipun karakter Genta sebagai pemimpin tercermin sangat baik lewat Fedi, apalagi dengan suaranya yang nge-bass dan cowok banget itu.
Soal Ian dan Riani, saya tidak bisa berkomentar banyak karena pemerannya sesuai dengan deskripsi novel, gendut dan cantik. Ian gendut dan Riani cantik, tolong jangan digabung. Soal Zafran sendiri adalah soal selera saya pribadi. Menurut saya, tampang Herjunot Ali terlalu baik-baik untuk memerankan pujangga bimbang nan selengean itu.

3. Isi
Seperti yang saya katakan di atas, film ini adalah tentang persahabatan, mimpi dan nasionalisme. Tapi jika Anda membaca novelnya, sesungguhnya ada banyak hal yang lebih dari sekadar apa yang ditayangkan di layar lebar.
Banyak hal-hal yang dibuang begitu saja, meskipun tidak mempengaruhi jalan cerita, tapi saya rasa cukup mempengaruhi kedalaman cerita itu sendiri. Pembicaraan filosofis di kereta, yang menggugah dan menginspirasi pembaca contohnya, dihilangkan begitu saja di film. Soal sekawanan pendaki yang sedang menyekar makam kawan mereka juga hanya diperlihatkan sepintas lalu. Juga soal kuburan yang terletak di dekat tenda mereka saat starting point di Ranu Pane.
Film 5 cm. seperti menonton sebuah cerita tentang sahabat yang sudah lama tidak bertemu dan reunian di gunung dengan latar belakang pemandangan yang memukau. Tidak lebih dari itu.

4. Dramatisasi
Saya suka drama, kalau tidak percaya lihat saja koleksi film bajakan di laptop saya. Tapi film ini terlalu mendramatisasi setiap adegan. Apalagi saat enam pendaki tersebut mencapai puncak. Apa perlu diperlihatkan adegan mereka berdiri sendiri-sendiri dengan penuh kebanggaan menatap alam, yang mana untuk setiap orangnya saja sudah makan waktu cukup lama? Menurut saya itu tidak perlu, membuat mengantuk dan bosan, terkesan repetitif. Adegan Genta yang bersujud ketika sampai di puncak, itu baru perlu.
Lalu adegan mereka berdiri di depan merah putih dan mengikrarkan cinta mereka pada tanah air. Oke, itu cukup bagus. Tapi apa maksudnya pendaki yang lain berbaris rapi di belakang mereka dan membiarkan mereka menguasai puncak tertinggi di Jawa itu berenam? Hello, memangnya mereka siapa?

5. Mountaineering
Berhubung saya nonton bersama orang yang sering naik gunung, jadi komentar-komentar tentang tidak tepatnya persiapan mereka mendaki menjadi tidak terhindarkan. Contoh, carriel yang terlalu kecil. Matras yang ditaruh di bawah carriel. Adegan di mana Arial membawa carriel dengan satu tangan. Saat mereka semua menaruh carriel di penyimpanan barang di atas tempat duduk. Dan paling penting, bagaimana orang-orang yang belum pernah mendaki sama sekali, apalagi diberitahukan bahwa persiapan Ian hanya jogging satu hari, bisa menaklukan puncak Mahameru.

Kesimpulannya, film 5 cm. cukup menghibur kalau anda mencari film penuh drama tanpa arti mendalam.

2 thoughts on “5 cm.

  1. “Mungkin seharusnya Nicholas Saputra yang dipilih (film apa saja akan lebih baik dengan adanya NicSap, percayalah).” Hahahaha …

    Was going to watch the movie, but the reviews you and some of my friends gave don’t look good. Should I watch it anyway?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s