OSIS periode 2011, keluarga kedua saya

“Kemarin di sekolah ngapain aja?” tanya ibu saya, sehubungan akhir pekan lalu yang saya habiskan di sekolah.

“Pendidikan OSIS yang baru Ma.”

“Kok nginep?”

“Ya gitu, diomelin malam-malam,” jawab saya, jujur.

“Lah kenapa harus diomelin?”

“Biar ada kebersamaannya, susah bareng-bareng.”

“Ooh.”

Saya tidak tahu soal OSIS periode kemarin, apalagi yang baru dididik ini, tapi diklat malam-malam yang menyiksa itu berdampak bagus pada OSIS kepengurusan saya.

***

Aslinya pos satu, loyalitas, dijaga oleh tiga orang dari OSIS yang baru saja lengser. Ivan, Ais dan Tommy. Ketiganya adalah pengurus pada periode OSIS saya. Saya kenal baik ketiganya. Tommy yang suaranya bagus tapi langsung menyerah bila dihadapkan dengan pelajaran eksak, Ais yang suka tidak jelas kala melucu (menurut dia lucu), dan Ivan yang sering traktir meskipun diejek terus soal pacarnya yang putus nyambung itu.

Saya cukup dekat dengan Tommy, apalagi jika ditambah dengan kembaran tidak resminya, Adit, makanya saya memilih masuk pos satu.

Tidak disangka, teman-teman seperiode saya yang dating belakangan juga memilih post tersebut. Jadilah pos itu dipenuhi dengan OSIS periode kami.

Ini adalah malam ketiga yang kami lalui bersama sehubungan dengan acara diklat. Dan di titik itulah, saya merasa bahwa diklat ini perlu. Tidak hanya sebagai tradisi, pemuas amarah yang terpendam, mendidik OSIS yang baru akan dilantik, tapi juga sebagai milestones pengurus yang lama.

Kami sudah dua tahun lebih bersama. Sabtu malam kemarin, saya, Tommy, Adit dan Angga makan bersama di lantai, membentuk lingkaran yang di tengahnya terdapat nasi bungkus dan ayam yang sudah terbuka. Tidak peduli mana senior mana junior, apakah saya perempuan dan mereka laki-laki. Tidak ada yang seperti itu di OSIS periode kami.

Contohnya saja, beberapa jam kemudian kami berbaring di lapangan yang kotor dan becek bekas hujan semalaman. Saya bersandar di kaki Adit, dia tiduran beralaskan perut Harly, yang lebih senior dari dia. Riris juga bersandar pada Tommy, sang junior yang sekarang sudah berpacaran dengan Puspa, cewek yang diincarnya semenjak masih jadi kacung logistik di periode saya dan baru didapatkannya saat telah menjadi wakil ketua satu di periodenya.

Tidak ada hal-hal seperti itu di OSIS, kita semua tetap keluarga. Deden datang meskipun Nisa, pacarnya tidak datang. Aziz datang ke rumah saya dulu, meskipun pacarnya langsung ke sekolah. Saya dan Harly menjaga pos yang sama meskipun kami sudah putus. Pacaran dan putus adalah peristiwa yang tidak berpengaruh pada kekeluargaan kami.

Di tengah-tengah acara, sekitar pukul tiga, Bang Ibas, senior yang jauh di atas kami, izin pamit.

“Duluan ya, gua pagi kerja nih.”

Dia bekerja paginya dan masih menyempatkan diri untuk mendidik adik-adiknya dulu. Saya rasa tidak usah dijelaskan lagi betapa hebatnya Abang yang satu itu.

Bukan cuma dia yang sudah bekerja, yang masih mahasiswa juga berkorban. Semua kembali ke almamater tercinta untuk mendidik adik-adik mereka, calon bagian keluarga termuda. Masih calon, karena belum resmi dilantik.

“Jangan panggil gua abang kalau elu belum jadi OSIS,” tegas Harly, yang menerobos banjir selutut selama dua jam, tanpa alas kaki, untuk mencari bus agar bisa berangkat dari Jakarta ke sini.

Sofi juga langsung berangkat dari Bandung.

Riris menembus hujan dari Bogor.

Malam itu Risma juga datang. Saat menjadi pengurus aktif, dia sering tidak ikut berkumpul. Namun tahun ini dia rela datang. Bukan cuma itu, dia juga membawa alat-alat medis dan obat-obatan. Dia ingin menerapkan hasil pendidikannya selama beberapa bulan terakhir ini di sekolah kebidanan. Kedatangan Risma dan alat-alatnya sangat membantu kelancaran acara itu.

Bambang membeli tiket pulang ke Cikarang dari Jogja, tanpa peduli bahwa tiket arah sebaliknya sudah habis. Sementara Senin dia masih harus kuliah. Dia tidak datang malamnya karena hujan besar, rumahnya jauh dan sangat berbahaya bagi motor untuk berkendara malam itu. Dia datang subuh, hanya untuk menemui temannya dan membawakan oleh-oleh.

Pagi itu kami sarapan bakpia yang dibawakan Bambang. Keju, cokelat, stroberi, juga panganan lainnya dari Jogja. Tertawa bersama, mengejek Bambang tentang adik kelas (Iya, kamu Cha) yang suka padanya semenjak satu setengah tahun yang lalu. Ejekan lama yang masih saja lucu bagi kami.

Itu kekeluargaan kami. Yang terbentuk semenjak diklat pertama kami, dua tahun yang lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s