Berlibur dengan bangun siang

Sepanjang liburan ini (yang sebenarnya tidak panjang bila dibandingkan dengan liburan universitas lain), saya bangun siang hampir setiap harinya. Efeknya, saya tidak bisa tidur cepat kala malam. Saya baru bisa tidur pukul satu, dan kemudian bangun siang lagi.

Saya ingin sekali merubahnya, punya jadwal tidur yang normal. Karena saya takut nanti tidak bisa bangun pagi untuk ke kelas ketika semester tiga dimulai dan saya lebih takut lagi akan prospek masuk angin lagi.

Suatu ketika, saya memutuskan akan bangun pagi keesokan harinya. Saya memasang alarm agar bisa bangun pagi.

Saya berhasil.

Saya menyeret diri sendiri keluar dari kasur, minum kopi dan duduk di sofa. Keluar dari kamar agar tidak tertidur lagi. Tapi saya masih sangat mengantuk. Saya juga tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Hampir saya tergoda untuk tidur lagi.

Lalu saya sadar, mungkin alasan saya tidak bisa bangun pagi selama ini adalah karena saya tidak cukup ingin. Karena saya tidak harus bangun pagi. Dan tentunya karena bangun pagi atau siang pun sama saja. Sama-sama tidak ada yang dilakukan. Tidak ada kelas, tidak ada janji makan bubur bersama, tidak ada teman yang menelepon untuk mengajak lari pagi. Tidak ada apa-apa.

Jadi ya, bangun siang pun tidak masalah. Bagaimanapun, bermalas-malasan adalah inti dari liburan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s