Bohong kalau seseorang bilang dia tidak punya sesuatu untuk ditulis.

Sesuatu itu, yang bernama ide, sebenarnya selalu ada di sekeliling kita. Dia berlimpah seperti udara yang kita hirup setiap hari. Namun seperti udara itu pulalah, ide sering sekali tidak kita sadari.

Yang sebenarnya terjadi, pada kasus saya setidaknya, adalah pembatasan ide tersebut. Kadang, kita membatasi diri sendiri. Ide sudah ada, tulisan sudah rampung, hanya saja, ada keraguan untuk mempublikasikannya.

Pointer mouse yang harusnya mengklik tombol “publish post” itu bergerak ke arah “save draft“. Dan teronggoklah tulisan itu, yang meskipun menampung ide yang hebat, tapi tak pernah tersampaikan.

Itulah yang membuat blog ini kering tiga bulan terakhir. Entah kenapa, saya ragu mempublikasikan tulisan yang saya buat. Saya takut bahwa tulisan dan ide saya sudah basi. Saya membatasi diri sendiri dengan asumsi yang saya buat sendiri.

Sampai pada akhirnya, saya tidak peduli lagi.

Dan memang begitulah yang harusnya dilakukan. Tidak usah perduli mau orang berkata apa. Bagus atau tidak memang tergantung pembaca. Tapi hal yang paling penting adalah bagaimana saya tetap menulis. Karena bila saya berhenti, saya tidak akan pernah bisa menjadi lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s