Mimpi

Facebook pernah menjadi sebuah jejaring sosial yang sangat fenomenal. Saking fenomenalnya, sampai-sampai kisah sang empunya dijadikan sebuah film – yang juga fenomenal. Saya sempat menghabiskan hari-hari dengan hanya bermain facebook. Tapi semenjak ada Twitter, halaman Facebook hanyalah tautan internet yang hanya sesekali dibuka, jarang diperbaharui, dibiarkan begitu saja.

Sore tadi, saya menghabiskan cukup banyak waktu di Facebook. Sebabnya karena situs tersebut menawarkan fitur baru. Kalau sebelumnya kita hanya bisa menyukai film, buku atau apapun yang kita suka, sekarang kita bisa menandakan apakah kita sudah menonton atau membaca, atau malah baru ingin membacanya.

Setelah seratus lebih film, saya melihat ulang tampilan profil saya. Dan saya menemukan sesuatu, yang juga telah terabaikan setelah sekian lama.

Sebuah catatan berjudul mimpi.

Bukan, bukan mimpi saya. Tapi mimpi seseorang yang begitu menginspirasi bagi saya. Inspirasi saya dalam menulis, inspirasi saya dalam memandang dunia.

Dia yang mati muda beberapa dekade lalu, Soe Hok Gie.

Catatan itu, adalah kutipan dari buku hariannya. Sebuah puisi yang berisi mimpi sang idealis.

Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh dan pemuda,

Bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun.

Dan para politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras,

Buat anak-anak yang lapar di tiga benua, dan lupa akan diplomasi.

Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, ras apa pun, dan bangsa apa pun,

Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

 

Tuhan – Saya mimpi tentang dunia tadi, yang tak pernah akan datang.

Catatan ini bukan sekedar pengingat pahit akan gambaran realita yang terjadi dalam dunia internasional yang diwujudkan melalui panggung bernama Persatuan Bangsa-Bangsa. Bahwa seringkali, panggung tersebut hanyalah tempat para diplomat pilihan bangsa menyampaikan dan memperjuangkan kepentingan negaranya di balik topeng perdamaian dan keamanan. Panggung tersebut hanyalah sebuah tempat adu kata-kata. Di mana tata krama dijunjung tinggi dalam kode etik diplomatik, di mana hampir semua yang mengambil jurusan hubungan internasional bermimpi akan berakhir di sana.

Catatan ini adalah pengingat pribadi. Bahwa ini bukan hanya mimpi seorang aktivis, mahasiswa sejarah, yang sudah mati di Puncak Gunung Semeru.

Ini juga adalah alasan kenapa saya ingin mempelajari hubungan internasional.

* * *

Dalam bidang hubungan internasional, ada sebuah kegiatan bernama Model United Nations – Model PBB. Kurang lebih, ini adalah merupakan simulasi dari sidang-sidang yang dilaksanakan oleh organ-organ utama PBB. Banyak mahasiswa hubungan internasional, bahkan dari jurusan lain, yang aktif dalam kegiatan ini. Bahkan ada perlombaan rutinnya setiap tahun, diselenggarakan di berbagai universitas terkenal, dari skala nasional hingga internasional. Partisipan MUN ini, berargumentasi bahwa dengan mengikuti kegiatan ini, mereka dapat meningkatkan kemampuan bicara, diplomasi, menambah jaringan, menambah pengetahuan dan membuat mereka selangkah lebih akrab dengan organisasi tertinggi dunia tersebut.

Saya tidak pernah ikut.

Tanpa memandang remeh para partisipan, saya yakin mereka semua yang ikut punya kemampuan yang lebih daripada saya, saya yakin mereka semua punya alasan tersendiri, tapi saya tidak suka dengan kegiatannya: bicara.

Sudah cukup banyak orang-orang seperti itu. Yang ahli bicara, entah untuk memperjuangkan kepentingan negara atau rakyat sendiri, dalam bidang perdamaian hingga budaya. Tanpa saya ikut pun, negeri ini tidak akan kekurangan pasokan orang-orang seperti itu untuk mewakilinya di forum internasional.

Masalahnya adalah tentang siapa yang masih ingat bahwa jumlah penduduk di suatu negara, jumlah pengangguran, jumlah kematian per kelahiran, jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, jumlah penduduk yang kekurangan air bersih, jumlah anak kecil yang malnutrisi, semua itu bukan sekedar statistik.

Mereka adalah manusia.

Dan mereka tidak peduli tentang semua hal diplomatis yang manis di mulut itu. Mereka tidak peduli dengan konvensi seperti apa lagi yang PBB buat kali ini. Mereka tidak peduli tentang betapa pentingnya peran diplomat itu meski kelihatannya hanya bicara saja.

Mungkin, mimpi yang digoreskan Soe Hok Gie tadi tidak akan pernah tercipta. Ia benar, bahwa dunia seperti itu tidak akan pernah datang. Idealisme seperti itu sulit sekali diperjuangkan di dunia yang dipenuhi berbagai kepentingan. Tidak ada yang mau memberi makan orang lapar dengan cuma-cuma, harus ada manfaatnya.

Pahit memang. Tapi inilah realita.

Memang, saya bukan siapa-siapa dalam sistem internasional ini. Masuk PBB saja sudah susah, apalagi berniat merubahnya. Oleh karena itulah, saya tidak ingin terlibat di dalam segala perbincangan itu. Daripada capek-capek merubah sistem, lebih baik langsung menolong korban sistem tersebut.

Kata-kata memang meyakinkan, tapi hanya aksilah yang bisa membuat perubahan.

2 thoughts on “Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s