Penjual yang tak sanggup membeli

Sedari kecil saya akrab dengan bau sayuran busuk dan lantai becek, juga lalat dan kecoa, serta kehadiran tikus seukuran kucing. Saya terbiasa berjalan cepat di tengah kerumuman, mengabaikan abang-abang yang sering iseng menggoda, dengan sandal jepit yang menyipratkan cairan bau yang entah sudah bercampur apa saja. Saya terbiasa dengan hawa panas lembab dan penerangan asal-asalan. Saya terbiasa melihat orang-orang tidur di balai pinggir jalan, tukang koran yang mengopi dan bermain catur dengan pedagang keturunan Cina, anak kecil yang menawarkan plastik dan jasa untuk mengangkut barang belanjaan, hingga nenek-nenek penjual jamu. Semua itu bercampur menjadi satu di jantung perekonomian rakyat kecil, pasar tradisional.

Dari gambaran saya tadi, pasar tradisional memang kumuh. Apalagi bagi orang-orang yang sedari kecil hanya mengenal swalayan yang bersih, tertata rapi dan berpendingin ruangan. Tapi sejorok apapun, pasarlah yang memberi makan saya dan entah berapa ribu rakyat kecil lainnya.

Pasar itu, yang berjasa selama delapan belas tahun hidup saya, akan digusur. Direnovasi, begitu kata pemerintah. Diubah dan ditata agar sampah-sampah, lantai becek dan satwa-satwa yang ada di dalamnya hilang. Pasar yang jorok dan kumuh itu akan dimoderenisasi.

Tentu saja terdengar manis. Terdengar pro kemajuan. Tapi tidak bagi orang-orang yang sudah berpuluh-puluh tahun mencari makan di sana.

Memang, pemerintah menjanjikan bahwa saat pasar yang sekarang direnovasi, semua pedagang akan mendapatkan tempat di penampungan. Tapi apakah pedagang itu akan mendapat tempat di pasar yang lebih bagus itu adalah persoalan yang lain. Itu adalah persoalan yang cuma bisa dijawab dengan uang.

Padahal dulu pedagang-pedagang itu, termasuk orangtua dan keluarga saya yang lain, sudah membayar dalam jumlah yang besar untuk sesuatu yang bernama hak guna pakai. Nanti, ketika pasar yang baru itu sudah jadi, kami harus membayar lagi agar dapat berjualan di situ.

Ya, pasar yang sejatinya adalah tempat jual-beli itu sekarang berubah menjadi komoditi yang diperjualbelikan. Kepada orang-orang yang sudah jelas tidak sanggup membayar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s