Nama dalam buku sejarah

Bacalah buku sejarah tentang masa-masa akhir Orde Lama. Anda akan menemukan sebuah nama yang dicap sebagai pahlawan. Arief Rachman Hakim. Gelarnya: Pahlawan Ampera.

Apa lagi yang kita ketahui tentang dia?

Dalam buku sejarah, hanya diketahui bahwa dia adalah seorang mahasiswa yang tewas dalam sebuah aksi. Sudah.

Saya tidak tahu apa-apa lagi tentang Arief Rachman Hakim, yang katanya adalah seorang pahlawan. Saya tidak tahu, mahasiswa mana dia, dari organisasi mana (pada masa tersebut organisasi mahasiswa sangat penting), apa saja yang dia lakukan, dan bagaimana pemikiran-pemikirannya.

Arief Rachman Hakim hanyalah sebuah nama dengan gelar pahlawan, yang dicetak dalam buku sejarah, tanpa seorang pun kenal siapa dia.

Bukan cuma dia yang sekedar nama. Banyak nama-nama lain, yang sering diulang dalam cetakan buku sejarah dari SD hingga SMA yang hanya dikenal sebagai sebuah nama dan jabatan. Tidak lebih daripada itu.

Akibatnya, kita miskin sejarah. Kita mengenal nama, bukan pribadi. Kita menghapal tanggal, bukan peristiwa. Kita tahu istilah, bukan makna.

Inilah yang perlu diperbaiki dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Soekarno, nama yang sering disebut pula dalam buku sejarah, pernah menghimbau masyarakat Indonesia agar tidak melupakan sejarah. Jas Merah, begitu singkatan yang tenar di masa kini. Himbauan yang tenar dari sebuah sosok yang tenar pula, namun aplikasinya tetap nihil.

Memang, sejarah dipelajari dari SD hingga SMA. Dari semangat murid masih merah membara hingga menjadi abu-abu pudar. Tapi apa yang dipelajari? Deretan kejadian demi kejadian, tanggal demi tanggal, nama demi nama, yang harus dihapal mati tanpa pernah dimengerti ceritanya.

Maksud kita belajar sejarah adalah supaya kita mengerti masa lalu. Agar kita bisa memahami kenapa sebuah peristiwa terjadi, kenapa seseorang melakukan tindakan tertentu, bagaimana situasi masyarakat saat itu, apa nilai yang beredar masa itu dan berbagai hal lainnya. Kita harus mengerti semua itu, agar bisa mencegah terulangnya kembali sebuah peristiwa kelam.

Sedang hapalan bisa dilupakan. Dan Arief Rachman Hakim, hanya menjadi sebuah nama dalam buku, tanpa seorangpun benar-benar mengenal siapa dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s