Memandang dunia

Perspektif adalah segalanya, termasuk dalam memandang dunia dan segala peristiwa yang terjadi di dalamnya.

Dalam bidang hubungan internasional, ada tiga perspektif yang menonjol. Anda butuh perspektif-perspektif ini dalam memahami dan menjelaskan peristiwa dan hubungan yang melewati batas negara. Tiga perspektif ini adalah liberalisme, realisme dan kontruktivisme. Yang akan saya bahas adalah liberalisme dan realisme.

Liberalis menganggap bahwa pada dasarnya semua manusia itu baik. Realisme, di sisi lain, menganggap bahwa baik atau tidaknya orang tidak berpengaruh banyak, karena mereka toh pada akhirnya akan selalu mengejar kepentingan pribadi.

Sebagai contoh, bila ada negara A yang memberikan bantuan kepada negara B, dua perspektif ini akan memberikan tanggapan yang berbeda. Liberalis akan menganggap bahwa negara A tulus dalam membantu negara B, bahwa itu diperlukan untuk kebaikan bersama. Realisme menganggap bahwa negara A pasti mempunyai maksud tersendiri di balik bantuan tersebut.

Seorang teman pernah bilang bahwa saya adalah realis sejati. Bahwa realisme klasik adalah kacamata yang saya kenakan sehari-hari.

Sebenarnya saya percaya bahwa semua orang pada dasarnya adalah baik. Tapi seiring berjalannya hidup, mereka pada akhirnya pun akan berubah menjadi egois. Mereka akan menanggalkan semua kebaikan demi mengejar kepentingan pribadi. Jarang sekali orang yang benar-benar bisa lepas dari kepentingan-kepentingan tersebut.

Dalam kacamata saya, liberalisme terkadang terlalu naif. Liberalis memandang dunia yang ideal. Kita semua tahu bahwa ideal berarti bukan kenyataan yang sebenarnya.

Kenyataan tidak pernah seindah dalam pandangan liberalis. Tidak ada kooperasi yang benar-benar demi kebaikan bersama, yang ada hanyalah satu pihak mengambil keuntungan dari pihak lain atas nama kooperasi.

Apabila individual memang baik, jangan harap mereka akan tetap baik ketika mereka mewakili negara. Jangan tertipu oleh senyum dan persona Obama, lihatlah perannya sebagai Presiden Amerika Serikat. Pemimpin karismatik (dengan asumsi bahwa dia baik) mungkin dapat merubah dunia, tapi siapakah dia dibandingkan seluruh tekanan dan kepentingan nasional di belakangnya?

Mungkin, realisme memang lebih tepat dalam memandang realita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s