Bank

Apa institusi paling menakutkan bagi Anda? Mungkin ada yang menjawab Amerika Serikat, mungkin ada yang menjawab PBB, mungkin ada yang menjawab paketan sistem Bretton Woods, mungkin ada yang menjawab pemerintah RI, tapi beberapa orang memiliki ketakutan pada satu institusi tersendiri, yang meskipun umum, tapi tetap menakutkan bagi mereka.

Institusi itu bernama bank.

Entah mengapa, kelas menengah ke bawah di Indonesia tidak menyukai bank. Mereka takut bila harus berurusan dengan bank. Citra perbankan di Indonesia lekat pada hutang, bunga besar, prosedur panjang, dan segala kerumitan yang timbul darinya. Oleh karena itulah, orang-orang ini tidak pernah mau berhubungan dengan bank.

“Masuk saja sudah merinding,” komentar seorang tukang sate asal Madura yang biasa mangkal di depan gang rumah saya.

Padahal, di bank kita bisa menyimpan dan meminjam uang dengan aman. Setidaknya bunganya terkendali dan tidak gila-gilaan. Tapi karena citra bank yang sudah sedemikian buruknya, mereka memilih meminjam uang pada pihak lain.

Pihak seperti ibu saya.

Seberapapun Megawati berbicara bahwa dia adalah ibu dan wakil wong cilik, saya yakin ibu saya lebih mengerti keadaan ekonomi rakyat dibandingkan anak Soekarno itu. Lebih dari setengah usianya dia habiskan di pasar, berdagang dan memutar uang ke pedagang-pedagang kecil lainnya.

Kurang lebih, ibu saya bertindak sebagai sebuah bank.

Orang-orang menyimpan dan meminjam uang darinya. Seringnya meminjam, karena mereka tidak punya cukup banyak uang untuk disimpan. Dalam proses peminjaman ini, tanpa sadar ibu saya sudah menerapkan sistem bunga yang sangat tinggi.

Tetap saja orang-orang memilih meminjam uang darinya. Alasannya sederhana: lebih mudah ketimbang bila harus mengurus prosedur peminjaman uang di bank.

Mungkin masih banyak orang-orang seperti para peminjam uang ke ibu saya. Tetapi bukan berarti semua yang meminjamkan seperti ibu saya. Mungkin saja orang-orang lain dengan uang, kapitalis-kapitalis kecil itu, meminjamkan uang dengan bunga yang jauh lebih besar dan malah akhirnya menyusahkan sang peminjam. Praktik peminjaman uang di luar bank memang kadang tidak terkontrol, dan pada akhirnya berakhir lebih kejam daripada institusi yang ditakutkan tersebut. Orang bisa terbelit hutang yang lebih pelik ketimbang berhutang pada bank sekalipun.

Padahal semua itu bisa ditangani dengan sosialisasi. Pengetahuan itu kekuatan, kata orang. Dan orang yang tidak tahu apa-apalah, yang merasa takut dan tidak berdaya.

One thought on “Bank

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s