Jomblo

Kalau dalam PraGagas dikatakan bahwa Jomblo adalah buku yang menasbihkan Adhitya Mulya menjadi penulis, maka Jomblo pulalah yang membaptis saya sebagai penggemar lumayan setianya.

Saya membaca Jomblo semenjak saya jomblo, punya pacar, lalu jomblo lagi. Entah sudah berapa kali saya membalik halaman demi halaman, tertawa akan humor-humornya, terbawa arus ceritanya, dan merasakan bagaimana sulitnya hidup menjadi jomblo. Walaupun sebenarnya tidak harus membaca buku ini untuk tahu betapa pahitnya yang terakhir.

Ada sesuatu adalah buku kecil bersampul kuning itu.

Dari sekian novel Indonesia yang telah saya baca, Jomblo masih menjadi favorit. Bukan karena sangat dramatis atau sangat lucu, tapi karena kombinasi keduanya begitu pas. Anda tidak akan jenuh karena merasa buku ini hanya berisi lelucon kacangan atau roman picisan.

Daya tarik lain juga terletak pada gaya bahasa sang penulis. Gaya Kang Adhit, panggilan akrabnya, dalam menulis sangat khas. Dia bisa menyampaikan humor atau membangun klimaks dengan cara yang tidak berlebihan. Berbeda sekali dengan kebanyakan penulis yang kadang memaksakan humor sehingga menjadi tidak lucu dan mendramatisasi semua keadaan hingga mirip sinetron Indonesia.

Tapi yang paling menarik buat saya, adalah karena pilihan yang diambil tokoh-tokohnya.

Agus, yang lebih bahagia dengan selingkuhannya, toh pada akhirnya kembali pada pacarnya. Dia menyadari bahwa memutuskan hubungannya untuk selingkuhan tidak menyelesaikan masalah. Dia menyadari bahwa itu adalah sebuah langkah yang tidak dewasa. Dia menyadari bahwa dia harus belajar memperbaiki keadaan dan bukannya mencari pelampiasan atau lari darinya.

Doni, secara berani memilih wanita yang dia cintai ketimbang sahabatnya yang selama ini cuma berani menjadi penikmat di kejauhan. Doni menganggap dirinya benar karena toh salah Olip sendiri kenapa dia tidak pernah berani untuk sekedar kenalan dengan wanita yang katanya dia cintai. Dan pada akhirnya, pembaca pun melihat bahwa persahabatan yang seerat mereka berempat pun tidak sempurna. Satu orang mengejar kepentingannya sendiri tanpa mempedulikan sahabatnya, dan satu orang lagi tidak bisa memaafkan kesalahan orang pertama tadi.

Bagaimana dengan satu orang lagi? Bagi saya, Bimo adalah tokoh yang tidak terlalu penting dalam cerita ini. Tidak banyak yang bisa dipetik dari kisah Bimo kecuali kenyataan pahit bahwa di dunia ini, tampang memang penting. Tapi bagaimanapun juga, setiap cerita butuh tokoh seperti Bimo. Yang tidak terlalu menonjol, tapi membantu jalannya alur.

Bagi mereka yang baru nonton filmnya saja, saya sarankan untuk membaca bukunya. Bagi mereka yang belum nonton filmnya, saya sarankan untuk membaca bukunya saja. Bagi mereka yang bahkan tidak tahu tentang Jomblo, silakan tutup jendela ini dan buka jendela baru. Di lantai tujuh. Lalu loncat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s