Sepucuk kabar

Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru untuk anak SMA. Semalam, Ode, teman SMA saya, memublikasikan sebuah catatan di Facebook. Seketika, saya langsung diserang nostalgia. Tapi tulisan ini bukan untuk bernostalgia. Tulisan ini adalah sepucuk kabar, yang tidak bisa dipublikasikan sebagai komentar di catatan Ode karena terlalu panjang.

* * *

Kabar gue baik, as always. Gue juga sudah di penghujung masa sewa di asrama. Tanggal dua puluh tujuh, semua penghuni asrama President harus sudah minggat ke tempat baru. Dan buat gue, tempat baru itu bernama rumah.

Yah sebenarnya sekarang juga gue sudah mulai tinggal di rumah lagi. Paper dan ujian membutuhkan banyak tenaga dari makanan yang suplainya terbatas jika gue di asrama.

Anyway, here comes the interesting part:

Paper itu…. ya paper. Mungkin paper bagi anak HI itu setara dengan laporan praktikum kimia bagi kita pas kelas sebelas: udah jadi makanan sehari-hari.

Ketika satu dosen, bukannya kasih soal, malah nyuruh lo nulis…. basically tentang apa aja selama berhubungan dengan subjek dia. Dan karena pada dasarnya semua ilmu itu berhubungan, saking bingungnya elu malah pakai teori yang lu dapet dari subjek lain ke subjek itu. Paper itu yang bikin jam biologis gue tidak sesuai evolusi lagi. Yah sebenernya sih kita dikasih jangka waktu yang panjang untuk bikin paper, cuma rasanya dosa aja gitu kalau bikinnya nggak mepet deadline. Dan sebenernya paper kita juga bukan vampir yang bakalan kebakar kalau terekspos sinar matahari, tapi entah kenapa kitanya yang kaya manusia serigala: baru aktif kalau melihat bulan. Minggu kemaren harusnya minggu tenang, dan gue malah asik ngerem diri di kamar untuk mengejar sekian deadline. Hari ini mulai ujian, dan gue masih ngutang satu paper lagi, yang belum gue kerjain karena, well, deadline-nya masih tiga hari lagi.

Oh iya, hari ini gue ujian open book. Dan pertanyaannya sudah dikasih sejak Rabu lalu. Basically gue tinggal nyalin ulang aja materi apapun yang udah gue dapet dari internet. Cuma ya itu… susah. Aneh ya? Kalau dulu IPA, disediain rumus aja udah membantu banget. Sekarang rajin ngubek-ngubek Google aja belum tentu nemu jawaban yang memuaskan.

Satu lagi hal yang baru gue sadari semenjak masuk jurusan ini: Indonesia itu miskin jurnal. Meskipun banyak ilmuan dari Indonesia, banyak ahli ini, ahli itu, tapi sedikit banget jurnal ilmiah yang membahas Indonesia dalam Bahasa Indonesia. Miris banget rasanya ketika gue harus cari bahan tentang Indonesia, tapi dalam Bahasa Inggris. Sedih. Masa bangsa lain lebih rajin meneliti Indonesia daripada kita sendiri? Gue membayangkan puluhan tahun ke depan, ketika anak cucu kita menanyakan tentang apa yang terjadi saat ini. Dan kita nggak bisa menjawab karena kita nggak cukup peduli untuk cari tahu. Ketika kita ditanya soal Indonesia dan orang-orang asing yang lebih tahu. Ketika kita nggak peduli sedangkan mereka punya setumpuk data.

* * *

Entah kenapa, semester ini terasa super duper panjang dan membosankan. Mungkin karena ada satu dosen yang gue nggak suka, dan sialnya dia mengajar di dua subjek. Semoga semester depan bakal lebih menyenangkan.

Kan, jadi nulis panjang lebar. Anyway, ini cerita gue. Mana nih cerita Uci dan Riris?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s