Jalan

Jalan adalah urat nadi sebuah daerah. Ialah yang menghubungkan satu daerah dengan yang lainnya, ia pula yang bertindak sebagai pembawa kehidupan.

Jika sebuah daerah dinilai dari jalannya, tempat saya tinggal, Cikarang, mungkin akan mendapat nilai yang saking jeleknya hingga harus retake semester depan.

Jalan di Cikarang dikuasai tiga macam kendaraan: motor, angkot, dan kendaraan besar.

Rasa-rasanya hampir semua rumah di Cikarang memiliki motor. Setiap pagi dan sorenya, entah berapa ribu motor yang lewat di depan rumah saya. Bolak-balik dari daerah yang lebih terpencil menuju pusat daerah: kawasan industri.

Ya, pengendara motor di Cikarang memang kebanyakan adalah pekerja pabrik di Jababeka atau di kawasan industri di Lippo Cikarang. Banyaknya motor di Cikarang adalah semacam tolak ukur sendiri: berapa banyak orang yang keluar dari pengangguran dan kesejahteraan yang telah mereka dapatkan.

Akan tetapi, banyaknya motor telah menimbulkan masalah sendiri. Kemacetan. Rasa-rasanya motor yang memenuhi, mengisi celah antara mobil-mobil di jalanan. Motor yang digunakan para pekerja ini memang menjadi salah satu penyebab kemacetan.

Akan tetapi, tanpa para pekerja ini, mungkin jalanan Cikarang tidak akan layak untuk dilewati. Tanpa para pekerja bermotor ini, tidak akan ada yang menjadi penggerak industri. Tanpa industri, tidak akan ada peningkatan kesejahteraan di sini.

Cikarang adalah sebuah lokalisasi pabrik dan buruh. Banyak sekali pabrik yang beroperasi di sini. Pabrik-pabrik yang menyediakan lowongan pekerjaan, sehingga mengundang banyak orang dari berbagai penjuru Indonesia. Banyak pendatang di sini, hingga aneh bila Anda menemukan orang yang asli Cikarang. Pendatang ini membutuhkan tempat tinggal, membuat orang-orang yang sudah datang ke sini lebih dahulu, mendapat keuntungan dengan menjual tanah untuk dijadikan perumahan atau membuat kontrakan sendiri.

Pendatang-pendatang ini lalu membentuk keluarga, yang juga membutuhkan jalan untuk bepergian ke mana-mana. Entah anak-anak yang bersekolah, atau ibu-ibu yang membeli bahan makanan di pasar. Tidak semua memiliki motor berlebih untuk digunakan, sehingga menjadi target potensial bagi angkot. Meskipun pertumbuhan penduduk Cikarang sangat fantastis, tapi sering terdengar keluhan dari balik kemudi mobil merah keoranyean tersebut.

“Kalau dulu, penumpang yang berebut angkot. Sekarang, angkot yang berebut penumpang,” begitu kelakar mereka.

Sedikit banyak ada benarnya. Kemacetan di jalan Cikarang kadang disebabkan oleh banyaknya angkot. Bukan cuma banyak, tapi juga perilaku mereka dalam menggunakan jalan. Sebagai kendaraan angkutan umum yang dinaiki siapa saja dari mana saja dan sampai mana saja, angkot bisa berhenti sesukanya. Secara tiba-tiba. Di tengah pertigaan ramai sekalipun. Angkot bisa berhenti kapan saja selama ada dua hal: seruan “kiri” dari penumpang yang sudah sampai tujuan atau penumpang potensial.

Soal penumpang potensial ini memang agak menyebalkan. Layaknya pebisnis yang baik, abang angkot adalah tipe manusia oportunistis. Mereka melihat dan berusaha menggapai penumpang setiap ada kesempatan. Sekecil apapun.

Abang angkot memiliki penglihatan nyaris sempurna. Mereka dapat melihat seseorang yang baru berjalan dari dalam gang kecil, kira-kira beberapa puluh meter dari pinggir jalan. Apabila sudah ada penampakan seperti itu, angkot otomatis akan berhenti. Si abang dengan sabar, dan penumpang lainnya dengan terpaksa, akan menunggu sampai sang target mencapai muka jalan. Entah dia akan naik atau melengos begitu saja.

Memang menyebalkan, apalagi jika Anda adalah penumpang yang sedang terburu-buru atau pengendara yang kebetulan sial sedang berada di belakang angkot yang tiba-tiba berhenti tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, toh pada akhirnya kita harus saling memaklumi bahwa abang-abang angkot yang SIM-nya ghaib ini juga punya tuntutan hidup. Mereka dibebani target setoran sehingga harus mati-matian mencari penumpang dan bersaing dengan angkot lain.

Jalan menuju sukses mungkin lebih mulus ketimbang jalanan di Cikarang. Di sini, hampir tidak ada jalan yang tidak bolong.

Bagaimana tidak, mengingat yang lewat adalah kendaraan beroda entah berapa semacam truk dan kontainer. Jalan yang kualitasnya nomor satu saja bisa rusak bila dibebani terus-menerus, apalagi jalanan yang uang pembuatannya dikorupsi habis-habisan seperti layaknya berbagai jalan lain di Indonesia.

Tapi meskipun merusak, truk-truk inilah yang juga membangun jalan. Pemilik mereka, pabrik-pabrik yang membayar ke Jababeka dan Lippo, adalah pihak yang membawa uang ke Cikarang. Mereka lah yang membuat jalan dan berbagai infrastruktur yang ada di sini. Memang, semua dibuat untuk keuntungan dan kepentingan mereka sendiri, akan tetapi semua itu juga turut dinikmati oleh rakyat Cikarang.

Di pinggiran jalan depan rumah saya, ada tiga pedagang yang mencari peruntungan bersama-sama setiap malam. Mas dan Ibu Sate Madura, Akang warung dan istrinya, serta Abang penjual nasi goreng gerobak. Mereka mangkal di situ, di pinggir jalan yang sama, setiap malam.

Mas dan Ibu penjual sate Madura (jelasnya) berasal dari Madura. Mereka sekeluarga, bersama dua anaknya yang masih kecil, entah kenapa bisa sampai di pinggiran daerah industri ini dan menyewa kios di pinggiran Jalan Ki Hajar Dewantara yang tidak pernah sepi. Akang pemilik warung berasal dari Jawa, bersama istrinya dia membuka warung yang buka hampir dua puluh empat jam, menjajakan makanan ringan, minuman dingin, mie instan, dan minuman hangat seperti kopi atau susu. Abang penjual nasi goreng adalah pemuda yang umurnya dua atau tiga tahun di atas saya, yang menyusul kakaknya yang sudah lebih dahulu sukses berjualan nasi goreng di tempat lain di Cikarang.

Tiga macam pedagang dari tempat-tempat yang berbeda, sama-sama berjualan di pinggir jalan Cikarang yang dilewati entah berapa ribu motor. Pemandangan yang sama juga terlihat di hampir seluruh jalan lainnya. Tidak ada trotoar, bahkan ruang untuk berjalan kaki pun nyaris tidak ada. Semua lahan ditempati. Entah oleh pedagang rujak, buah segar, maupun bensin. Semua untuk mencari sesuatu yang sama: uang, penghasilan, kesejahteraan. Hidup.

Jalan berserta seluruh isi dan pinggirannya dipenuhi sosok-sosok yang saling berusaha, sama-sama, dan bersaing dalam mempertahankan hidup mereka. Mereka mengadu nasib, kadang bertabrakan dan terjatuh, sementara yang lain tetap melaju.

Jalanan Cikarang, sebobrok dan semacet apapun, adalah rangkaian kehidupan satu juta orang, entah dari mana saja, yang sama-sama berusaha memperbaiki hidup. Dan dalam usahanya, mereka telah mengidupi daerah yang mereka lalui, sebuah daerah yang dulunya disebut tempat jin buang anak, namun telah berubah menjadi kota industri kecil tempat urbanisasi menunjukkan taringnya.

Penulis tinggal di Jalan Ki Hajar Dewantara, bagian yang dilewati dua nomor angkot dan entah berapa motor serta truk. Sering berjalan kaki dari pertigaan Pilar hingga ke rumah karena macet dan juga fakta bahwa itulah satu-satunya kegiatan pengolahan jasmani yang penulis bisa lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s