Ekonomi dan Biak

Entah sejak kapan, ilmu ekonomi telah menjadi hal yang sangat rumit. Perekonomian manusia yang tadinya hanya sekedar barter, berkembang menjadi jual beli dengan adanya uang, lalu sekarang menjadi…. entah apa. Perekonomian tidak hanya berfokus pada hal yang riil seperti barang dan jasa saja, tapi juga pada saham, obligasi, dan jargon ekonomi lainnya.

Kakak saya, yang tiga bulan belakangan ini tinggal di Pulau Biak (utara Papua), mengamati bahwa terjadi perubahan gaya hidup pada masyarakat lokal yang disebabkan oleh uang dan ekonomi.

Dulu, kehidupan orang lokal di Biak dan pulau-pulau kecil sekitarnya hanya berkisar makan, tidur, makan, lalu tidur lagi. Mereka makan apa yang tersedia di alam, yang mana sangat berlimpah jika Anda tinggal di sana. Mengambil ikan tidak usah capek-capek memancing. Cukup menaruh jaring, tunggu sebentar, dan Anda langsung mendapatkan ikan untuk dimakan. Begitu terus setiap hari.

Setidaknya, sampai kapitalis-kapitalis dari barat Indonesia datang ke sana.

Pebisnis-pebisnis ini, yang hidupnya tidak pernah sesederhana orang lokal, datang untuk meraup keuntungan dari perairan setempat. Mereka ingin ikan. Bukan cuma untuk diambil satu-satu setiap mau makan seperti warga lokal, tapi dalam skala besar, untuk diperdagangkan.

Mereka mempekerjakan warga lokal, meminta mereka menangkap ikan dalam skala besar untuk dijual. Dengan imbalan uang, suatu konsep yang sebelumnya tidak dibutuhkan warga lokal.

Bukan cuma uang saja yang dikenalkan, tapi juga gaya hidup yang lainnya. Yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh warga lokal. Yang memang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh mereka.

Dengan perkenalan ini, warga lokal menyadari bahwa ada hidup dan kebutuhan selain apa yang selama ini mereka tahu. Hidup tidak lagi sesederhana menangkap satu ikan untuk setiap kali makan.

Sekarang mereka bekerja. Demi uang. Uang yang dipakai untuk membeli barang yang dulu mereka tidak butuhkan.

Kapitalis akan bilang bahwa ini adalah proses moderenisasi. Bahwa mereka sebenarnya sudah berjasa atas membawa kemajuan kepada warga lokal.

Entah kenapa saya tidak setuju.

Gaya hidup warga lokal sebelumnya, gaya hidup tradisional, meskipun dalam kacamata kita yang sejak umur empat tahun bisa dibujuk dengan uang terlihat kuno, tapi merupakan hidup yang tenang dan membahagiakan. Hidup mereka sederhana, tidak direpotkan dengan berbagai persoalan. Tidak direpotkan tentang bagaimana harus mencari uang untuk makan. Mereka tidak pernah merasa kekurangan, tidak banyak keinginan, tidak banyak tuntutan.

Itulah hidup yang sebenarnya, yang kapitalis cuma bisa dapatkan di hari liburan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s