Kesempatan dan nasionalisme

Kemarin siang dimulai dengan keputusan untuk membaca buku di teras rumah. Baru saja saya selesai membaca bagian pendahuluan, ada sesuatu yang mengganggu. Suara tiga bapak-bapak yang sedang memasang tali tipis di pohon manga depan rumah. Tali tipis dengan kertas merah putih yang dipotong asal dan ditempel menggunakan kanji.

Ya, tiga bapak-bapak itu sedang mempersiapkan gang kecil tempat saya tinggal semenjak lahir untuk perayaan tujuh belas Agustus. Sebuah tanggal yang sudah lama tidak terdengar hingar-bingarnya di gang ini karena beberapa tahun terakhir selalu bertepatan dengan hari puasa.

Tapi toh akhirnya tahun ini merah putih berkibar di sepanjang gang kecil ini. Dan ketiga bapak-bapak ini sedang mengusahakannya. Hanya bertiga.

Itulah yang membuat saya memutuskan untuk menutup buku, mengambil doubletape dari dalam kamar, dan keluar untuk membantu menempelkan kertas minyak merah putih.

Barulah setelah saya keluar, anak-anak tetangga ikut berdatangan satu per satu. Sorenya, seluruh gang sudah ramai dengan bendera merah putih karya ketiga bapak-bapak itu, saya, dan bocah tetangga.

Setelah tali terakhir selesai ditempel ke bambu di depan gang, semua berbalik masuk ke dalam gang untuk pulang ke rumah masing-masing. Di sinilah saya mendengar percakapan yang cukup menggugah saya.

Pak Husin, yang paling tua dari ketiga bapak-bapak itu, yang mengenakan peci selama bekerja, berjalan beriringan dengan Yosi, seorang anak laki-laki yang membantu mengikatkan tali-tali yang sudah ditempeli bendera itu.

“Nah, nanti Yosi yang ngurusin beginian. Kan Yosi generasi penerus bangsa.”

Begitu kira-kira yang dia ucapkan. Dari seorang bapak-bapak dengan penuh keriput di muka kepada anak kecil berkulit hitam legam terbakar matahari.

Barulah saya sadar. Saya adalah satu-satunya remaja yang ada di situ, yang ikut membantu mempersiapkan perayaan kemerdekaan negara ini.

Remaja lain, yang mungkin lebih menggambarkan kata ‘pemuda’ dan ‘generasi penerus bangsa’, tidak dapat hadir sore itu.

Bukan karena mereka tidak cukup mencintai bangsa ini. Bukan karena mereka tidak peduli dengan perayaan kemerdekaan. Melainkan mereka harus bekerja.

Tidak semua remaja seberuntung saya, yang bisa kuliah sehabis menamatkan SMA. Tidak semua remaja seberuntung saya, yang punya waktu libur panjang di sela-sela semester sehingga bisa membaca buku dan membantu persiapan perayaan tujuh belasan.

Di gang kecil tempat saya tinggal, sebagian besar remaja langsung mencari kerja begitu ijazah putih abu mereka keluar.

Keadaan menuntut mereka seperti itu. Keadaan yang membuat mereka tidak sempat menempelkan kertas minyak merah putih karena harus bekerja.

Tidak ada yang bisa menjamin bahwa Yosi nanti tetap bisa membantu menghiasi gang ini untuk perayaan hari kemerdekaan begitu lulus SMA. Sangat mungkin generasi penerus bangsa ini nantinya pun harus mengesampingkan nasionalisme demi mengisi perut.

Karena semulia apapun nasionalisme, tetap saja tidak bisa memberi makan perut seseorang. Karena semulia apapun amanat yang mereka emban sebagai generasi penerus bangsa, tetap saja ada hal yang perlu didahulukan.

Tidak hadirnya pemuda di gang saya sore kemarin adalah bukan karena kurangnya nasionalisme, tapi karena kurangnya kesempatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s