Mimisan

Darah segar mengucur dari hidung tanpa ada apa-apa sebelumnya. Pendarahan kecil itu, yang akrab disebut dengan mimisan, menemani saya selama tiga hari.

Tiga hari yang berdarah itu dimulai sejak Selasa. Saya sedang tidur siang sebelum kelas yang semua orang tahu bakal menjadi sangat membosankan. Alarm berbunyi, saya terbangun, dan darah segar mengucur.

Itu pula yang terjadi Rabu paginya. Lalu siangnya, lalu sore, dan juga malam. Begitu pula saat saya terbangun pada Kamis pagi. Kucuran darah segar yang hanya bisa ditunggu untuk berhenti sendiri.

Teman-teman saya pun khawatir. Meski bukan mahasiswa kedokteran, mereka membuat diagnosis sendiri: saya kelelahan.

Seorang temanpun langsung menyampaikan tuduhannya di kelas, “Lo kecapekan kali.”

Anehnya, saya tidak merasa capek.

Memang benar, semenjak semester empat, saya tinggal di rumah yang berjarak kira-kira dua puluh menit dari kampus. Tiga puluh, bila sedang macet. Memang benar, sejak semester empat pula, saya dibombardir dengan berbagai rapat persiapan acara. Bila tidak selalu, rapat ini seringkali diadakan malam hari. Kurang lebih kegiatan saya adalah bangun, berangkat ke kampus, kelas, pulang ke rumah, istirahat sebentar, berangkat lagi, rapat, pulang.

Seorang teman lagi menyampaikan penjelasan yang berbeda, “Mungkin lu udah nggak ngerasain capek lagi karena sudah terbiasa capek.”

Saya rasa dialah pemenangnya. Terbiasa capek sehingga tidak menganggap capek lagi. Sehingga rasa capek itu menjadi sesuatu yang normal, bahkan tidak terasa lagi.

Tapi toh badan saya yang menanggung akibat sebenarnya. Dan dia demo selama tiga hari. Mengucurkan darah segar yang sebenarnya bisa didonasikan bila tidak berakhir sia-sia bersama tissue di tempat sampah.

Mungkin bukan cuma saya dan badan saya yang mengalami hal ini. Kadang, kita begitu terbiasa dengan suatu hal sehingga tidak menganggapnya penting lagi. Tapi toh ada orang lain selain diri kita sendiri, yang mungkin tergantung oleh hal tersebut.

Perhatikanlah hal-hal yang kita anggap normal atau sepele tersebut, sebelum mereka mulai membuat kita mengucurkan darah segar karena sudah terlalu parah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s