Perjalanan Pendek

Beberapa orang tidak sabar untuk segera sampai ke tujuan, beberapa orang lagi memilih untuk duduk santai dan menikmati perjalanan.

Mungkin saya adalah tipe orang yang kedua.

Karena saya tinggal di rumah, perjalanan ke kampus bukanlah jalan kaki yang bisa ditempuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Perjalanan ke kampus adalah serangkaian jalan kaki, angkot 18, digoda abang-abang, angkot 42, lalu jalan kaki (yang kadang membuat saya digoda abang-abang lagi). Perjalanan itu memakan waktu dua puluh hingga tiga puluh menit, hampir satu jam bila macet.

Dalam perjalanan yang kadang singkat namun kadang secara menyakitkan panas dan lama itu, saya bertemu dengan banyak orang. Janganlah bicara soal penumpang lain, karena karakter supir angkotpun sangat berbeda dari satu ke yang lainnya.

Ada supir angkot yang baik hati, yang menolak menerima ongkos dari penumpang yang sudah tua. Sebaliknya, ada supir angkot yang pelit, yang suka membawa kabur uang kembalian. Mungkin hanya seribu-dua ribu jumlah uang yang diikhlaskan (atau sebaliknya, dikorupsi), tapi makna perbuatannya sangat berbeda. Kesannya berbeda. Menunjukkan karakter yang berbeda pula.

Ada juga supir angkot yang suka melucu. Yang ketika ada razia dan diminta polisi menunjukkan surat-surat (izin berkendara, maksudnya), malah sengaja menunjukkan surat kawin. Dan ada juga (yang paling saya tidak suka), supir angkot yang suka marah-marah dan tidak sabar. Selalu pencet klakson setiap beberapa meter sekali, yang menyetir dengan ugal-ugalan, selip sana sini namun menyumpahi orang yang menyelipnya.

Yang sempat membuat saya penasaran adalah seorang ibu-ibu yang duduk di tepi jalan, menunggu angkot lewat. Kadang, angkot yang saya naiki menepi sebentar, memberikan sejumlah uang pada ibu itu dan juga sebuah kartu yang dibuat dari sobekan kardus. Baru beberapa hari yang lalu saya akhirnya tahu bahwa supir-supir angkot yang sudah berkeluarga itu menabung di ibu itu. Mengingatkan saya pada cerita ibu saya sendiri soal keengganan orang pasar untuk menabung di bank.

Tapi perjalanan yang saya rasa paling menyenangkan adalah perjalanan sepanjang jalan Ki Hajar Dewantara di dalam angkot 18 beberapa hari yang lalu. Hanya beberapa menit, tapi entah kenapa sangat berkesan. Padahal sebenarnya tidak ada kejadian yang macam-macam. Hanya sebuah angkot yang dinaiki beberapa penumpang.

Yang berbeda adalah, penumpang-penumpang itu mengobrol dengan satu sama lainnya. Orang-orang asing yang dipersatukan oleh satu tujuan (sebenarnya tujuannya tidak sepenuhnya sama, kebetulan saja satu trayek angkot), saling bicara dan tertawa. Menertawakan si abang angkot yang bingung ketika ada dua pelajar sekolah yang tempat turunnya berlainan, tertawa kecil ketika nenek-nenek yang saya naik sudah tidur dan ketika bangun langsung memesan kepada si abang untuk menurunkannya di terminal padahal tujuannya itu masih sangat jauh. Bersama-sama berseru “Kiri!” ketika ada penumpang yang ingin berhenti dan tidak terdengar oleh si abang, yang entah terlalu asik dengan musiknya atau bagaimana.

Entah kenapa perjalanan itu sedikit banyak menghangatkan hati saya. Setidaknya masih ada orang-orang ramah di sini. Yang mau tertawa bersama, bicara, dan saling menolong meskipun tidak saling mengenal.

Dulu waktu saya kecil, saya sering mendengar bahwa Indonesia adalah negara yang dikenal ramah. Ketika umur saya bertambah, entah kenapa klaim itu terasa palsu. Yang saya lihat adalah orang-orang yang acuh tak acuh melihat sebangsanya ditindas. Yang saya lihat adalah orang-orang yang selalu diburu-buru waktu sehingga tidak peduli lagi dengan sekelilingnya. Yang saya lihat adalah orang-orang yang lebih asik dengan apapun yang ada di layar telepon selularnya ketimbang kejadian di depan matanya.

Syukurlah, perjalanan kecil dari rumah ke kampus telah memaksa saya bertemu dengan orang lain. Bertemu dengan orang-orang asing yang membuat saya mengenal karakter manusia, tahu kebiasaan beberapa di antara mereka, dan menemukan kembali Indonesia yang katanya ramah itu.

Ya, perjalanan saya memang pendek. Tapi toh setidaknya lebih saya nikmati ketimbang turis-turis yang menghabiskan waktunya untuk sekedar berfoto dan pamer di internet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s